Showing posts with label hidupcinta. Show all posts
Showing posts with label hidupcinta. Show all posts

Friday, August 17, 2012

Hikmah, part # 3 (habis)

Momen Spesial

Apa momen spesial Anda? Apakah saat hari pernikahan Anda? Atau ketika pertama kali jatuh cinta? Atau meraih sebuah penghargaan atas prestasi Anda? Mungkin dari ketiga hal itu salah satunya merupakan momen spesial dalam hidup Anda.

Mungkin saya berbeda jika ditanya apa momen spesial dalam hidup saya. Tahun 2007 saya memutuskan untuk tidak meneruskan kuliah di ITB dan memilih pindah ke Fakultas Psikologi. Sebuah keputusan terpenting dalam hidup saya yang mungkin diangap bodoh oleh orang lain. Namun, alhamdulillah ternyata Allah memberikan jalan bagi saya untuk berkembang sesuai minat dan potensi yang selama ini belum tergali. Di Psikologi saya banyak belajar dan bertemu orang-orang luar biasa, salah satunya adalah seorang dosen, sahabat, dan teman dalam berbagi ilmu dengan ikhlas yaitu Kang Tauhid Nur Azhar. Lewat beliau saya belajar banyak, bukan hanya pada materi kuliah, tapi bagaimana menyikapi kehidupan.

Kadang saya suka bertanya, "Apakah saya bisa bertemu dan belajar pada Kang Tauhid jika saya tidak memutuskan kuliah di Fakultas Psikologi Unisba?" Entah, hanya Allah yang tahu. Yang penting sekarang adalah bersyukur atas nikmatnya yaitu dipertemukan dengan orang yang membuat saya lebih memiliki arti hidup.

Kata Ibu

Pada suatu malam yang indah di sebuah rumah sederhana di sudut kota, tampak 2 keluarga dari pihak laki-laki dan pihak perempuan berbahagia bersilaturahmi saling sapa penuh cinta. Ditengah-tengah obrolan hangat, seorang ibu dari pihak laki-laki berkata, "Kalo Duddy nggak pindah ke Unisba mungkin nggak ketemu neng Nita."

Itulah hikmah menurut ibu saya, ibu no. 1 di dunia tentang momen spesial saya. Betul juga, walaupun sekali lagi Allah yang lebih tahu. Mungkin memang inilah jalan-Nya, jalan saya dipertemukan kapada calon istri saya.

Calon Istri?

Masih ingatkah dengan pelatihan hipnoterapi, kompetisi bisnis, dan teman-teman baru dari UPI? Subhanallah... Sekali lagi mungkin inilah jalan Allah, ada banyak hikmah di setiap kejadian. Ketika saya ikut dalam sebuah komunitas outbond training saya bertemu dengan seorang Kawan yang kemudian merekomendasikan saya untuk memberikan pelatihan hipnoterapi dasar di UPI. Di sana saya bertemu teman-teman Psikologi UPI baik yang menjadi panitia maupun peserta.

Kemudian silaturahim itu tidak terputus begitu saja, karena berawal dari kompetisi bisnis yang kami ikuti, saya meminta bantuan kepada teman-teman yang menjadi panitia ketika di UPI itu untuk membantu pelaksanaan event berikutnya yang diikutsertakan pada program kompetisi bisnis. Inilah jalan Allah...  meskipun sesungguhnya saya malas ikut kompetisi tersebut karena sedang fokus skripsi, tapi atas ajakan seorang Kawan akhirnya saya menyerahkan proposal bisnis, dan lolos ke final. Saya berdo'a beberapa kali agar tidak lolos tapi Allah berkehendak lain. Dan hikmah terbesarnya saya mengikuti kompetisi bisnis tersebut saya dipertemukan kembali dengan teman-teman dari UPI.

Dari pertemuan kembali itulah kemudian saya menemukan jodoh saya.

Alhamdulillah dengan ijin Allah di bulan Mei 2012, saya dan keluarga melamarnya tepat sehari setelah ibu saya mengatakan, "Kalo Duddy nggak pindah ke Unisba mungkin nggak ketemu neng Nita."

Keajaiban "nikah2011"

Tidak ada yang tidak mungkin ketika Allah sudah memutuskan sesuatu. Seperti misalnya dalam sebuah film religi berjudul "Ketika Cinta Bertasbih". Dalam film tersebut, Azzam diceritakan sedang mencari pendamping hidup. Namun setelah pencarian yang berbulan-bulan ia tidak berhasil mendapatkannya. Ia sendiri ingin memiliki istri seperti Ana, namun Ana sudah ada yang melamar. Ana kemudian menikah, namun karena suatu hal ia bercerai. Dalam hati kecilnya ia ingin menjadi istri bagi seseorang yang dulu telah menolongnya yang tidak lain adalah Azzam. Azzam tidak mengetahui bahwa Ana telah bercerai. Ia yang pasrah belum menemukan pendamping hidup akhirnya dipertemukan "kembali" oleh Ana. Mereka berdua pun menikah.

Meskipun dalam film, saya percaya banyak keajaiban Allah yang bertebaran di muka bumi ini. Dan saya semakin percaya setelah saya mengalaminya sendiri. Sejak meniatkan diri menikah pada tahun 2011, di akhir tahun 2010 saya mengganti password FB saya menjadi: nikah2011. Alasannya agar saya terus berikhtiar untuk mewujudkan impian tersebut.

Pada bulan Januari 2012, salah seorang teman dari UPI juga memiliki password yang sama. Siapakah ia? Ia tidak lain adalah calon istri saya. Saat itu perasaan saya biasa saja. Namun seiring berjalannya waktu dan saya dan ia banyak memiliki kesamaan terutama tentang visi hidup, perasaan itu berubah, dari yang netral menjadi positif cinta.

Mungkinkah ia jodoh saya? Mungkin. Karena ia sendiri tidak sedang dilamar oleh orang lain. Maka saya pun mengajukan diri untuk melamarnya.

Jangan Menyesal

Alhamdulillah, 30 hari dari hari ini insya Allah kami akan menikah. Sebuah penantian dan niat yang telah terpatri di hati masing-masing hingga menuangkannya dalam bentuk password. Dan Allah menjawab niat dan do'a kami hingga kami dipertemukannya dengan cara yang indah. Beginilah cara Allah mempertemukan saya dengannya. Jadi mengapa harus menyesal meninggalkan ITB?

Jangan pernah menyesal, dan syukurilah setiap kejadian yang kita alami. Karena ada hikmah yang Allah berikan kepada kita. Jangan bersedih, jangan menyesal. Mantapkan niat, perbanyak do'a dan tentunya ikhtiar. Allah yang meminta kita untuk menikah, maka Allah akan memudahkan, Allah akan menyediakan fasilitas dan sarana-Nya. Dan allah akan mempertemukan kita dengan pendamping hidup kita dengan cara-Nya yang luar biasa indah.

I'tikaf Jonggol 1433 H, 17 Agustus 2012

Duddy Fachrudin

Thursday, August 16, 2012

Hikmah, part # 2

I'tikaf Jonggol 1432 H

Di kala kegalauan skripsi pada Ramadhan tahun lalu, saya mendapat sms tentang program i'tikaf Ramadhan bertema "wirausaha" di Jonggol dari seorang Kawan lama satu koperasi dulu. Saya ingin ikut, tapi karena fokus skripsi, maka 10 hari terakhir saya habiskan di Cirebon hingga lebaran. Akhirnya informasi itu saya berikan kepada seorang Kawan dan teman saya tersebut sangat tertarik untuk mengikutinya.

Let's Move On!


Apa jadinya jika seseorang terfokus pada satu hal namun justru aktivitas tersebut membuatnya tidak produktif? Tentunya ia telah menyia-nyiakan waktunya. Dan orang-orang yang menyia-nyiakan waktunya adalah orang yang merugi. Maka sudah saatnya saya bergerak menuntaskan skripsi karena saya sudah berjanji untuk lulus tepat waktu.

Di saat pikiran terpusat pada skripsi, seorang Kawan malah menyuruh saya mengikuti sebuah program kompetisi bisnis nasional. Saya sebenarnya malas, tapi akhirnya proposal  tentang bisnis pelatihan dibuat juga pada H-1 deadline penerimaan proposal. Kemudian dalam hati berdo'a: "Semoga tidak lolos."

Namun takdir Allah berkata lain saya dan tim justru masuk semifinal dan harus presentasi di hadapan juri saat itu juga. Hasilnya? Saya lolos ke final dan harus mengikuti kompetisi selama 2 bulan di bulan Desember 2011-Januari 2012, padahal di saat-saat itu skripsi harus sudah selesai bahkan di forumkan.

Oktober 2011

Kurang lebih sebulan setengah sebelum kompetisi dimulai saya mendapat undangan untuk mengisi training pembelajaran hipnoterapi dasar selama 2 hari di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Saya sendiri mendapat rekomendasi dari seorang Kawan yang mengenal saya di sebuah komunitas outbond training yang saya ikuti di bulan Maret 2011. Dari situlah ia mengenal saya sebagai trainer berlisensi untuk mengajarkan hipnoterapi dari skill dasar hingga lanjutan.

Sejak saya memberi pelatihan pada pertengahan Oktober tersebut saya mengenal beberapa Kawan baru dari UPI terutama jurusan Psikologi. Tentunya hal ini membuka kesempatan untuk bisa silaturahim kembali dalam kesempatan yang sama maupun berbeda.

Beberapa hari sebelum Idul Adha 1432 H. Saat itu saya duduk termenung memikirkan kompetisi. Saya juga memikirkan tempat yang tepat untuk mengadakan pelatihan hipnoterapi selanjutnya yang diadakan pada bulan Desember. Di saat itu pikiran melayang mengingat teman-teman baru dari UPI. Spontan saya memberitahu mereka dan ingin bertemu mereka.

Tak Ada Yang Kebetulan

Akhirnya saya mendapat bantuan dari teman-teman UPI ketika mengadakan pelatihan hipnoterapi dasar di bulan Desember. Dan berkat bantuan mereka pula satu event yang juga masuk dalam program kompetisi yang kami ikuti terselenggara berkat bantuan mereka. Alhamdulillah... Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Saya bertemu dengan seorang Kawan di komunitas salah satu provider outbond training, kemudian ia merekomendaskan saya memberi pelatihan hipnoterapi, saya bertemu teman-teman Psikologi UPI yang menyelenggarakan event tersebut, dan kini mereka membantu event
kami.

Di akhir program kompetisi bisnis, dari 80 peserta finalis seluruh Jawa kami tidak termasuk salah satu pemenangnya. Saya kecewa? Tidak, karena tentu saja saya mendapatkan pengalaman dan ilmu baru selama 2 bulan kompetisi. Selain itu ada satu hal yang saya dapatkan yang justru nilainya jauh melebih hadiah para pemenang: 15 juta, IPAD, & Playbook BB.

Apakah itu?

Bersambung...

I'tikaf Jonggol 1433 H, 16 Agustus 2012

Duddy Fachrudin

Wednesday, August 15, 2012

Hikmah, part # 01

"Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmu lah engkau berharap."
(QS. Al Insyirah: 7-8)

Sore ini, 15 Agustus 2012 saya membuka MP dan sebelum blog yang saya buat sejak 2006 itu terbuka, muncul terlebih dahulu pernyataan dari CEO MP:

"From December 1st, we will unfortunately no longer be able to support Multiply in its current form - notably we will be removing the social networking and content sharing part of Multiply (photos, videos, blogs, social messaging, etc.). We have decided to discontinue providing and hosting these services, as we have concluded that other Internet sites who are committed to social networking services will do a better job serving you than we can."

Saya kemudian browsing untuk melihat lebih jauh apakah isu itu benar. Dan ternyata beberapa artikel di beberapa blog maupun portal berita menuliskan hal yang sama bahwa layanan blog di Multiply per 1 Desember 2012 akan ditutup.

Sore itu menjelang Ashar saya terdiam. "Ditutup dalam hati saya, So?"

Hanya itu yang keluar dalam hati. Multiply kini lebih fokus pada pelayanan online shope-commerce kepada penggunanya dan menghapus layanan blog biasa yang memuat artikel, berbagi foto dan video. Saya termasuk pengguna yang kedua. Jadi www.avonturir.multiply.com sebentar lagi menghilang dari dunia maya.

Bagi saya tak masalah jika layanan blog ini ditiadakan, hanya saja saya harus memindahkan berbagai tulisan (terutama) ke tempat lain, karena ada beberapa tulisan yang tidak di-save di komputer. Sementara blog baru pun segera disiapkan (walaupun sebenarnya sudah dibuat 1-2 bulan yang lalu).

Mungkin sudah saatnya berpindah ke blog lain atau bahkan suatu situs tertentu yang terintegrasi dengan bisnis yang insya Allah akan saya kembangkan. Mungkin juga agar saya lebih berkembang, bukan hanya menulis di blog ini.

Ada Hikmah di Setiap Kejadian, Lalu Kenapa Harus Bersedih?

Ada seorang Kawan (perempuan) di tempat kerja yang merencanakan untuk segera menikah dengan calonnya. Namun, ternyata keluarga laki-laki tersebut tidak menyetujui karena kakak sang calon belum menikah. Akhirnya ia batal menikah. Ia mencoba tegar menghadapi kenyataan itu.

Bagaimana jika itu terjadi pada diri kita?

Entah. Mungkin ada yang sedih, kecewa, marah, murung dan berjuta emosi lainnya. Atau mungkin ada yang mengatakan, "Mungkin memang bukan jodohku."


Hampir semua orang berdo'a apa yang diinginkannya. Misalnya si fulan berdo'a ingin menjadi orang kaya, memiliki rumah mewah dan mobil keren. Suatu yang wajar jika manusia berdo'a seperti itu karena kecenderungan manusia ke arah itu sangatlah besar, seperti firman Allah pada surat Ali Imran ayat 14:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Kita memang menginginkan hal tersebut, namun kadang kita kadang tidak bertanya dalam hati: Apakah saya butuh itu? Maka Allah yang lebih tahu kebutuhan kita mungkin akan mengabulkan do'a kita tapi bukan yang kita inginkan, namun yang kita butuhkan.

Keinginan Menikah 2011

Sejak akhir 2010 saya menargetkan tahun 2011 adalah akhir masa sendiri alias masa membujang. Tidak jarang dalam setiap do'a terselip harapan menikah pada tahun 2011. Do'a saja tentu harus dibarengi ikhtiar, maka saya melakukan usaha untuk memperkenalkan dan ta'aruf kepada perempuan yang juga setidaknya memiliki niatan yang sama, yaitu menikah pada waktu dekat.

Alhamdulillah karena ada target dan do'a maka ikhtiar pun diupayakan. Dan hasilnya? Ada yang dekat dengan saya, namun setelah saya mengatakan untuk melamar dan menikahinya, justru perempuan itu lebih condong tidak siap. Hingga akhirnya 2011 pun berlalu. Tak ada akad nikah, tak ada walimatul ursy. Ambil hikmahnya: mungkin ada rencana Allah yang lain dibalik ini semua.

Mari melupakan masa lalu mari menjemput masa depan, atau istilah kerennya "Let's Move On!". Do'a dan harapan terus dipanjatkan karena siapa tahu bukan di tahun 2011, karena menurut Allah bukan saatnya bagi saya menikah di tahun itu. Atau bahasa lain, "Saya belum butuh menikah di tahun 2011."

Betul. Karena skripsi saya tertunda karena suatu hal, dan hal tersebut membuat saya kecewa karena saya harus menemukan fenomena dan judul baru. Tapi mungkin, inilah rencana-Nya. Di balik itu, saya pernah berucap kepada seorang Guru bahwa ketika wisuda nanti saya ingin ada pendamping selain orang tua. Jadi, adakah sesuatu di balik ini semua?

Saya tidak tahu.

Bersambung...

I'tikaf Jonggol 1433 H, 15 Agustus 2012

Duddy Fachrudin


Thursday, July 5, 2012

Start From Intention

Kuliah Cinta 10: Start From Intention

From this moment life has begun

From this moment you are the one
Right beside you is where I belong
From this moment on
(“From This Moment”, Shania Twain)

Jalanan pagi masih sepi. Semburat senja terpantul indah di empang sebelah penginapan di sebuah kota. Ia berpadu dengan uap panas yang muncul sehingga tampak seperti kabut tipis Mandalawangi yang menari-nari, menyapa kami para pejalan kaki.

Saya memandang lewat jendela di atas mobil yang melaju menuju kaki Papandayan. “Allahumma yassir wa la tuassir”, begitu kata sahabat kehidupan pagi itu via sms yang membuat saya tak tahan meneteskan air mata. Semoga Allah memudahkan urusan hari itu.

Hari itu? Hari itu awal dari sebuah cerita baru,

Ijinkan aku menyapa
Kepada dunia
Tentang kita
Tentang cinta

Ijinkan aku berkata:
Terima kasih cinta

Ijinkan aku berencana
Tentang sebuah keluarga
Mereka berlari, tersenyum, & tertawa
Indahnya

Ijinkan harapan ini berwujud do’a
Bersama kita memohon kepada-Nya
Satu, hanya satu:
Pernikahan yang barokah

Ijinkan aku terus belajar
Menjadi pelindung & pembuka jalan bagimu

Ijinkan aku selalu ada
Untuk mu
Untuk kita
Untuk perjalanan ini menuju surga-Nya

Cerita baru. Apakah itu? Semua orang pastinya memiliki cerita baru. Sejak kelahiran hingga ajal menjemputnya. Cerita-cerita itu terangkai menjadi sebuah simfoni kehidupan yang terelaborasi dari berbagai rasa: sedih, kecewa, marah, senyum, dan tawa.

Masih ingatkah dengan sebuah masa di saat ibunda tercinta mengantar kita pertama kali ke sekolah. Kemudian masih ingatkah saat-saat kita mengalami jatuh cinta. Masih ingatkah ketika kita saat diterima kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama. Masih ingatkah ketika begitu bahagianya mendapatkan gaji atau penghasilan dari usaha kita. Masih ingatkah pada suatu masa yang indah terpatri sebuah ikatan suci nan indah antara kita dengan kekasih hati?

Cerita-cerita baru pun terus berlanjut, di mana kita sudah tak lagi merengek kepada orang tua minta dibelikan sepatu roda. Tapi diri kita yang sekarang bersama kekasih hati yang membuat rencana petualangan-petualangan sejak komitmen indah itu terucap. Maka mulailah kehidupan yang baru, tentang petualangan-petualangan dari satu cerita dalam nuansa berbagi rasa, tapi mari kita ijinkan segala rasa itu tertuju pada-Nya.

Ijinkan aku selalu ada
Untuk mu
Untuk kita
Untuk perjalanan ini menuju surga-Nya

Tak ada yang bisa menjaga kita selain Dia. Tak ada yang bisa melindungi kita selain Dia. Maka petualangan yang kita rajut selalu sandarkan kepada-Nya. Hingga saatnya tiba kita kembali kepada-Nya. Dari Dia kembali kepada-Nya.

Akhirnya tak ada yang paling indah selain janji setia kita pada 1 cinta—pasangan kita:

I will love you
As long as I live
From this moment on...

You’re the reason I believe in love, 30 Mei 2012

Duddy Fachrudin

Sunday, April 29, 2012

Perempuan

Kuliah Cinta 9: Perempuan

Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan

Ada apa dengannya?
Meninggalkan hati untuk dicaci

Lalu sekali ini aku lihat karya surga dari mata seorang hawa

Ada apa dengan cinta?

Tapi aku pasti akan kembali dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya

Bukan untuknya
Bukan untuk siapa
Tapi untukku

Karena aku ingin kamu
Itu saja. . .
(Perempuan, dibacakan Rangga di "Ada Apa dengan Cinta")

Pernahkah terbesit belajar dari seorang perempuan? Tidak. Itulah yang aku pikirkan dulu. Namun kini seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia aku harus bisa mengetahui seluk beluk kaum hawa.

Yang paling mudah tentunya belajar dari ibu: sifat, karakter, perilaku wanita tercermin jelas dari ibu kita. Ibu yang lebih khawatir akan anak-anaknya, ibu juga yang menjadi orang pertama yang menolong kita saat kita sakit. Kasih sayangnya tertumpah ruah. Cintanya tak bisa diukur, karena begitu tulusnya ia menyayangi kita. Tak heran Rasulullah Saw. menyebutnya 3 kali sebelum ayah.

Yang kedua adalah istri. Bagi yang telah menikah pasti dapat merasakan perbedaan antara dia (suami) dan istrinya. Tidak mudah untuk memahami satu sama lain, karena kadang ego masing-masing dapat mengalahkannya. Sang istri mengharapkan suaminya tidak hanya bekerja, tapi juga ikut membantu mengurus anak. Sementara sang suami bersikeras tak mau membantu karena ketika tiba di rumah energi baik fisik maupun psikis sudah terkuras sehingga tak ada lagi waktu untuk menemani anak-anak. Itulah perbedaan. Oleh karenanya, kata alm. Sophan Sophian, pernikahan adalah manajemen ketidakcocokkan.

Yang ketiga dari para sahabiyah: ibunda Khadijah, Aisyah, Fathimah, dan lain-lain. Kenapa harus mereka? Belajarlah dari yang terbaik, dan yang terbaik adalah mereka yang berkualitas surga. Lihatlah Khadijah yang selalu setia menemani dan menjadi teman curhat ketika Rasulullah Saw. mengalami guncangan saat awal-awal menerima wahyu. Lihat pula bagaimana sifat cemburunya Aisyah kepada istri Rasulullah Saw. yang lain. Dan lihat juga Fathimah yang begitu anggun dan sungguh ia tidak ingin dimadu oleh Ali bin Abu Thalib.

Perempuan berbeda dengan kita laki-laki. Sebagai seorang laki-laki kita harus bisa memahaminya dari setiap kata yang terucap, dari raut wajah yang tergurat, dan dari air mata yang mengalir menuruni kedua pipinya. Dengan memahaminya, insya Allah perbedaan bukan menjadi penghalang. Justru perasaan cinta dan sayang akan semakin besar.

Begitukah?

Mungkin... karena bagiku yang penting bisa memahami perasaannya (perempuan), serta meniatkan diri untuk menjadi laki-laki yang terbaik baginya.

Dalam ending "Ada Apa dengan Cinta", kepergian Rangga untuk melanjutkan sekolah ke New York membanjiri air mata Cinta. Namun, sesungguhnya jauh-dekatnya jarak tidak akan membedakan rasa, jika kita niatkan cinta ini sebagai satu pijakan untuk meraih cinta-Nya.

Maka ijinkan setiap bulir air mata yang menetes adalah karena-Nya. Dengan begitu tak ada yang perlu kita khawatirkan. Tak ada yang perlu kita risaukan. Jalani saja dengan sederhana. Itu saja...


From this moment on, 30 April 2012

Duddy Fachrudin 

Thursday, April 26, 2012

Flexibility is simplicity

Kuliah Cinta 8: Flexibility is simplicity

Hari itu siang menyengat Bandung. Dan diriku yang sedang mengendarai sepeda motor. Di sekitar Unpad aku membelokkan Biti ke salah satu tempat fotokopi dan digital printing. Biti? Itu nama sepeda motorku, alias Beat Putih.

Flashdisk  terpasang, aku sibuk menatap monitor yang berisi data pribadiku atau bahasa kerennya curriculum vitae. Jari jemari menari di atas keyboard, mengetik kata demi kata yang diperlukan di dokumen itu. Beberapa detik berselang... Plep, layar tiba-tiba hitam. "Kok mati?" benakku dalam hati. Lalu kubertanya pada empunya toko. "Pindah aja, kalau untuk ngedit langsung mati. Tuh ada tulisannya kalo nggak boleh ngedit." Oh... gitu rupanya. "Ya udah A, makasih..." aku meninggalkan tempat itu.

Di atas Biti aku bergumam, "Ternyata toko itu lebih baik kehilangan pelanggan daripada 300 rupiah."

Ah cinta... itulah yang seharusnya kita miliki. Kalu kita mencintai pelanggan, maka akan dengan mudahnya kita berkata, "Oh iya mas maaf... silahkan pindah dan lanjutkan mengetiknya." Itulah cinta, ketika cinta tertaut dalam hati, maka apapun bisa terjadi, seperti: kekakuan, kekokohan gunung es yang tiba-tiba mencair.

Maka ijinkan cinta terpatri halus dalam rongga-rongga pembuluh darah kita. Biarkan ia mengalir bersama oksigen dan darah menuju organ-organ yang terbentuk karena cinta Allah Maha Rahman dan Rahim. Karena cinta bunda dan ayah. Karena cinta...

Karena cinta menjadikan hidup menjadi sederhana.


From this moment on, 24 April 2012

Duddy Fachrudin   

Saturday, April 14, 2012

Setia Pada Cinta

Kuliah Cinta 7: Setia Pada Cinta

Membaca kisahmu, para sahabatmu, generasi-generasi setelahnya membuat hati ini tergerus cemburu. Dalam hati terus bertanya: bisakah? Bisakah aku memiliki iman yang tangguh dan kokoh seperti mereka? Sehingga jiwa ini tak mudah karam atau terpelenting? Aku terus bertanya dalam renungan, seakan pertanyaan itu mengevaluasi seluruh kehidupan.

Banyak orang mengatakan cemburu tanda cinta. Seperti halnya Aisyah dan Saudah ra. yang saling cemburu dengan "menerbangkan piring" di dalam rumah. Wajar mereka berdua saling cemburu, karena suami mereka adalah orang yang paling mulia. Orang yang paling mulia? Itulah dia: kekasih-Mu, penyampai risalah-Mu, teladan sepanjang masa yang lidahnya masih bisa menyebut "Ummati... Ummati" di kala ruh sudah mencapai dada, orang yang penuh cinta.

Dialah special one sejati: Rasulullah Saw. yang melahirkan orang-orang yang berkualitas. Indikatornya sederhana: iman dan cinta. Bilal yang mengatakan "Ahad... Ahad" meski cambuk menerpa kulit legamnya. Keluarga Ammar bin Yasir yang mempertahankan akidah hingga syahid menjemput. Hasal Al Bashri dan Ummar bin Abdul Aziz, ulama dan pemimpin yang saling mengingatkan agar tidak tergelincir dalam harta dan tahta. Al Ghazali yang diakhir hidupnya mengatakan "Ikhlaslah... Ikhlaslah..." yang berarti hidup untuk satu: Allah Swt. Guru dan murid, Ibnu Taimyah dan Ibnu Qayim yang setia pada iman meski penjara memasung fisiknya. Sufyan Tsuri yang mengingatkan sahabatnya Harun Ar-Rasyid agar menjadi pemimpin yang amanah dan menggunakan uang negara dengan bijaksana.

Andai matahari di tangan kananku, takkan mampu mengubah yakinku
Bilakah rembulan di tangan kiriku, takkan sanggup mengganti imanku

Lantunan nasyid menambah rasa cemburu. Kepada mereka yang setia pada 1 Iman, 1 Cinta.


From this moment on, 14 April 2012

Duddy Fachrudin
 

Wednesday, March 28, 2012

Validitas & Reliabilitas Cinta

Kuliah Cinta 6: Validitas & Reliabilitas Cinta

Sore dingin bersenandung bersama gerimis air yang jatuh. Tik-tik-tik, ia membasahi dan menggenangi jalanan yang berlubang. Ia pun membasahi rambut dan kepala para pejalan kaki--termasuk saya ketika itu.

Lihatlah air, molekul yang terdiri dari hidogen dan oksigen itu memiliki sifat sederhana. Ia menggenangi jalanan, membasahi rambut, atau membentuk segiempat pada wadah kotak. Ya, ia selalu menempati ruang di mana ia berada. Fleksibel dan sederhana.

Dan sederhana dekat dengan ketulusan. Lihatlah begitu tulusnya kohesi antara hidogen dan oksigen membentuk molekul cinta yang menenangkan serta menyejukkan hati manusia sesaat sebelum menghadap Sang Maha. Tetesannya dalam wudhu menyentuh puluhan titik relaksasi dalam tubuh. Sejuk, tenang, dan menyegarkan sebagai awal kita bisa bertemu dengan-Nya. Bukan dengan dendam, dengki, atau sombong.

Luar biasa, kita bisa belajar banyak dari air yang mewujud dalam ketulusan. Dan tahukah, bahwa hanya dengan ketulusan kita bisa melihat cinta itu valid. Maka kita dapat mengukur cinta kita kepada pasangan atau anak-anak kita dengan seberapa besar ketulusan itu. Dari sederhana menjadi ketulusan. Dan ketulusan bertranformasi pada keikhlasan.

Ikhlas berfokus pada satu. Itulah mengapa agama menjadi sebuah syarat utama dalam memilih partner hidup. Sebagai contoh kita bisa melihat teladan kita. Siapakah istri ketiganya? Tidak seperti ibunda Khadijah yang kaya, tidak pula seperti Aisyah yang cantik dan masih muda. Namun, ia adalah seorang wanita yang lebih tua dari Rasulullah Saw, memiliki beberapa anak, tidak secantik Aisyah atau sekaya Khadijah.

Itulah validitas cinta. Dan ketika ketulusan serta keikhlasan yang membuat cinta itu valid, maka otomatis, cinta pun akan memliki realibilitas yang bukan hanya tinggi, tapi sempurna. Sempurna tak akan pernah lekang oleh waktu, seperti cintanya Muhammad Rasulullah Saw. kepada umatnya: Ummati... Ummati...


From this moment on, 29 Maret 2012

Duddy Fachrudin

Tuesday, March 27, 2012

Rihlah Penuh Cinta

Kuliah Cinta 5: Bagaimana meningkatkan rasa cinta?

Subhanallah... beberapa hari yang lalu saya bertualang meniti bebatuan dalam eloknya riak sungai. Menaiki jembatan bambu yang bergoyang menggerus keseimbangan. Suara alam, jangkrik, atau burung begitu terdengar merdu. Sementara cahaya matahari yang menyembul malu-malu dari balik pohon-pohon rimba.


Sampainya di tujuan setelah menempuh perjalanan panjang, terlihat sebuah keluarga: Abi, Ummi, dan 2 anaknya. Yang satu sekitar 7 tahun, satunya lagi yang dalam dekapan hangat Umminya, masih sekitar 2 tahun. Mereka menapaki jalur naik-turun yang sama dengan saya! Mereka tersenyum bahagia, dan mungkin juga sesekali bertahmid memuji keagungan karya cipta-Nya. Ketika meniti jembatan bergoyang itu, terpancar sinergi dan kolaborasi cinta agar tidak terjatuh.

Memang benar dalam Islam, bahwa salah satu memperkuat ikatan dan rasa cinta adalah dengan berjalan jauh bersama. Ketika rihlah penuh cinta, moment-moment indah akan bersemayam di hipokampusnya masing-masing. Emosi bahagia tumpah ruah ke sekujur tubuh yang lelah. Saya belajar dari keluarga itu, keluarga yang terlihat sederhana. Saat keluarga lain menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan, mereka dengan senyum dan tawa melakukan petualangan.

Rasa cinta kepada pasangan atau anak-anak akan semakin meningkat. Abi dengan Ummi, Abi Ummi dengan anak-anaknya, serta sebaliknya. Kelak suatu hari di masa depan, sang anak akan bertutur kisah bahagia saat mereka mendaki rimba dengan Abi Umminya tercinta. "Inilah perjalanan kita, perjalanan cinta," begitu mereka mengakhiri kisahnya.


From this moment on, 26 Maret 2012

Duddy Fachrudin

Sunday, March 25, 2012

Kuliah Cinta

Kuliah Cinta 4: Bagaimana dengan cinta yang memaksa?

Allah tak pernah memaksa kita untuk memasuki Islam. Maka untuk apa kita memaksa cinta menjadi milik kita. Posesif, "Kau milikku, aku tak rela kau dengan orang lain" terucap sebelum adanya ikatan. Pantaskah?

Sebelum adanya ikatan saja sudah mengatakan hal seperti itu, bagaimana jika sudah berkomitmen? Semuanya akan diatur oleh oleh Si Posesif, sang belahan jiwa diperlakukan bagaikan robot yang harus melayaninya.

Lalu jika cinta yang seperti ini, apa bedanya dengan cintanya hewan, yang hanya bermodalkan hawa nafsu. Itulah mengapa Allah menciptakan bukan hanya batang otak dan sistem limbik, tapi juga korteks sebagai fungsi luhur manusia. Karena manusia berbeda, makhluk yang agung yang dapat memaknai serta memahami cinta dengan bijak. Ijinkan korteks kita yang terdiri dari lobus occipital, temporal, parietal, dan frontal mengambil alih cinta dengan penuh kebijaksanaan.

Jika cinta tidak memaksa, entah apakah itu sebelum adanya ikatan atau setelah janji terpatri, kita menganggap dia bukan milik kita, tapi milik-Nya. Dan tugas kita hanya menjaganya, menemaninya, hingga ujung waktunya. Sehingga pada suatu masa yang indah, cinta itu akan dipertemukan lagi oleh-Nya. Tentu saja di surga.


From this moment on, 25 Maret 2012

Duddy Fachrudin

Saturday, March 24, 2012

From This Moment Part. II

(Postingan Sebelumnya):

Sang Julie pun tetap hidup dengan gelar baru dibelakang namanya: Sophian. Ya, Widyawati Sophian. Karena feniletilamine, yang berfungsi menjaga kesetiaan pada satu cinta. AHA! Satu cinta, lalu kenapa kita menginginkan lebih?



Masih tentang cinta. Ya, lalu kenapa kita menginginkan lebih? Padahal Allah saja cinta-Nya satu: kepada makhluk-Nya. Lihatlah bagaimana Rahman dan Rahim-Nya begitu menyinari bumi. Ia lembut bagaikan bulir air yang menyapa dedaunan hijau, tergolek, menggelayut elok pada tubuhnya. Rahman dan Rahim-Nya pula yang membuat kita merasakan nikmatnya hidup dari rizki yang diberikan oleh-Nya.

Namun, sayang kita sering lupa dengan cinta-Nya. Kita dengan seenaknya "berselingkuh". Komitmen yang kita ucapkan minimal 9 kali sehari sering dilanggar secara sadar maupun tidak sadar. Kita sering menduakan-Nya lewat harta, tahta, manusia, aktivitas, disamping berhala yang dilakukan kaum Jahiliyah dulu.

Hidup pun gundah gulana. Rasa sesal di dada. Wajar karena perselingkuhan membuat ketidakseimbangan dalam tubuh manusia. Ini mengikuti kaidah entropi. Oleh karenanya, kita harus membuat entropi dalam diri kita menjadi nol. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan 1 cinta. Dengan begini, hukum Termodinamika yang ke-3 itu benar-benar berlaku, dan bahkan dapat menciptakan suatu sistem yang positif.

1 cinta, bernama kesetiaan. Setelah itu kita dapat berkata dengan tenang, Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un: sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali.


From this moment on, 24 Maret 2012

Duddy Fachrudin

Thursday, March 22, 2012

From This Moment

"From this moment" adalah ungkapan rasa yang paling indah ketika kita mengalami pengalaman yang tidak pernah terlupakan dalam hidup sehingga dapat memicu reaksi-reaksi kimiawi dalam tubuh kita yang kemudian memunculkan senyawa-senyawa dopamin, adrenalin (norepinefrin), feniletilamine, serotonin, oksitosin, vasopresin, dan juga enkefalin (endorfin).

Rasakanlah saat kita jatuh cinta: mungkin tubuh kita memproduksi adrenalin yang membuat kita deg-degan ketika bertemu pujaan hati atau mungkin sebaliknya endorfin yang memberi ketenangan. Namun yang jelas cinta membuat seseorang lebih bersemangat untuk hidup. dan ketika kita kehilangan sang cinta, hidup terasa sepi dan hampa. Dopamin dan serotonin sebagai motivator dalam diri kita tak ada lagi, sehingga kita terbelenggu dalam kemurungan dan depresi.

Hidup seakan berakhir karena cinta telah pergi, sehingga Romeo menembak dirinya, ketika melihat Juliet tak sadarkan diri. Emosi mengalahkan kebijaksanaan yang terletak pada lobus frontalis-nya. "Aku ingin menemanimu kapanpun dan dimanapun, serta dalam kondisi apapun", mungkin itulah yang terucap dalam hati Romeo, dan mungkin karena pengaruh luapan kesetiaan pada feniletilamine.

Namun saya belajar pada sang Julie Widyawati. Memang, saat sang cinta pergi, ia tak kuasa untuk terus berdiam diri. Murung dan sepi, berhari-hari. Namun setelah itu prefrontal korteksnya mengambil alih emosi. "Bukankah saya harus hidup?" Nucleus Caudatus-nya serentak aktif.

Sang Julie pun tetap hidup dengan gelar baru dibelakang namanya: Sophian. Ya, Widyawati Sophian. Karena feniletilamine, yang berfungsi menjaga kesetiaan pada satu cinta. AHA! Satu cinta, lalu kenapa kita menginginkan lebih?


From this moment on, 15 Maret 2012

Duddy Fachrudin

Tuesday, March 13, 2012

Attachment

Michael Resnick Ph.D dalam The Journal of The American Medical Association (1997), menyatakan remaja yang merasa dicintai dan terhubung dengan orangtua mereka lebih jarang hamil di luar nikah (atau MBA), memakai narkoba, bertindak agresif & destruktif, serta bunuh diri.

Kok bisa? Tentu saja bisa, karena orangtua sibuk bekerja dan memiliki waktu yang sangat sedikit sekali untuk berinteraksi bersama anaknya. Ketika sang anak berusia remaja, rata-rata orangtua berusia 35-45 tahun di mana mereka sedang berada pada level top di tempat kerjanya atau bisnisnya.

Saya sendiri pernah menjumpai beberapa kasus-kasus seperti itu di mana orangtua memiliki waktu dengan anaknya hanya pada hari minggu. Suatu hal yang wajar jika sang anak stres dan mengalihkan masalahnya ke hal-hal negatif.

Pada situasi seperti ini bukan jalan-jalan ke Bali atau Singapura yang dibutuhkan anak. Namun attachment yang sehat serta penuh kasing sayang dan cinta yang diharapkan diberikan ayah-bundanya. Ia rindu akan oksitosin, atau hormon cinta yang dikeluarkan sang bunda saat dirinya lahir ke dunia. Ia pun rindu akan cinta sang ayah yang dibalut dengan pesona diamnya, seperti ayah Ikal--ayah juara satu sedunia.


Maka jika orangtua sibuk, siapa yang kelak melantunkan ayat-ayat-Nya serta mendongengkan kisah-kisah para nabi & sahabat Rasululullah?


Merencanakan Keluarga, 14 Maret 2012


Duddy Fachrudin

Sunday, February 19, 2012

Nikah: Kupinang Engkau dengan Sepeda Ontel

Nikah itu… Nikmatnya IKAtan barokaH
(Duddy Fachrudin)

Berbicara mengenai cinta memang tak ada habisnya. Mengapa? Karena hidup ini tak akan ada tanpa cinta. Karena Allah Maha Mencintai hamba-Nya, apapun yang terjadi. Dan sifat itu Allah tularkan kepada mahluknya yang bernama manusia. Entah apa jadinya jika manusia sudah tak memiliki sifat ini. Tak akan ada lagi Ibu yang membuang bayinya. Tak akan ada lagi korupsi dan tak akan ada kejahatan. Ya Allah maafkan kami…

The power of love adalah kekuatan yang maha dahsyat. Seorang Ibu rela meregang nyawa ketika melahirkan kita. Saya sendiri nggak bisa membayangkan betapa sakitnya wanita mulia itu ketika mengeluarkan seonggok daging mungil dari rahimnya. Sampai kita dewasa beliau selalu memberikan curahan cintanya untuk sang anak. Mari, sini nak… Ibu disini…, ya Allah masukkanlah wanita penuh cinta itu kedalam jannah-Mu. Itulah kekuatan cinta.

Kekuatan cinta pula yang menyatukan dua insan dalam sebuah ikatan pernikahan. Hmm... Nikah? Seperti kata Shofwan Al-Banna: Emang gue pikirin… Tapi emang gue harus pikirin. Kenapa harus dipikirin? Ah, Kawan... kita tengok saja berbagai berita perceraian yang setiap hari kita santap di media. Itulah mengapa suatu pernikahan harus dipersiapkan secara matang, salah satunya agar hal yang tidak disenangi Allah itu tidak terjadi.

Pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Segala sesuatunya harus dipersiapkan untuk menghadapi moment itu. Pernikahan bukan sekedar pemuas nafsu belaka. Ketika memasuki kehidupan baru bernama keluarga, tantangan kehidupan akan semakin besar. Berbagai perubahan hidup mau nggak mau pasti terjadi, dan jika kita tidak pandai mengelolanya bisa menimbulkan stres. The College Life Stress Inventory (Renner, M.J. & Mackin R.S, 1998) bahkan menyebutkan pernikahan adalah salah satu sumber stres dengan norma 76 dari skala 100.

Namun, jika suatu pernikahan bisa dikelola dengan baik, hal itu bukanlah penyebab stres, melainkan sumber kebahagiaan dan solusi kehidupan. Ya, kenapa nggak, menikah dijadikan solusi bagi setiap orang untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Lelaki yang rambutnya gondrong acak-acakan semasa membujang menjadi rapi jali ketika menjadi seorang suami. Rokok pun tak lagi disentuhnya karena sang istri emoh melihat pangerannya merokok. Lalu yang terbiasa hidup boros, menjadi super hemat karena harus mengatur keuangan keluarga. Hidup pun jadi produktif coz harus menghidupi diri juga keluarga. Dan yang paling penting menjadi semakin dekat dengan Rabb-nya karena mereka telah menyempurnakan dien-nya.

From this day on, forever be true
Cherish this life that’s destined for you
Live your life with kindness and care
Remember Allah will always be there

There is joy, there is happiness
In this union, let there always be bliss
Allah will bless your home with light
Your heart, with never ending delight

Two worlds are now have become one
The road ahead is as bright as the sun
Oh Allah, keep this marriage so strong
In Your hands does their future belong
(Zain Bikha, Nikahun Mubarakun)



Pernikahan ibarat sepeda ontel dimana dua manusia berada di atasnya. Jika sepeda berada pada sebuah tanjakan berat, maka mereka saling bahu membahu mendorong sepeda dan ketika berada pada jalanan yang menurun, mereka harus pandai-pandai mengeremnya jika tidak ingin menabrak kendaraan di depannya. Tanjakan adalah sebuah ujian seperti kesulitan uang atau dimana sepasang manusia itu harus mengontrak sebuah rumah sederhana dan turunan adalah dimana mereka mendapat karir bagus dan uang berlimpah yang mungkin bisa menjadi parasit atau sumber keretakan pernikahan.

Dan jika sesuatu yang buruk akan menimpa pada sebuah pernikahan, remember Allah will always be there , Allah Ar-Rahman Ar-Rahim akan menguatkan kembali ikatan itu sembari dua insan melepaskan ego masing-masing. Insya Allah, samudera kesulitan akan dapat terarungi dengan mulus dan kata-kata habibi serta habibah akan terus terucap dari bibir masing-masing hingga batas waktu yang tak pernah kita tahu.


Untuk seorang kawan yang akan menikah...

Kamar Sunyi, 4 Agustus 2009

Duddy Fachrudin


Monday, January 9, 2012

Aku Jatuh Cinta

Apakah aku mencintaimu, aku tak tahu

Aku hanya melihat wajahmu sekali saja

Aku memandang di matamu sekali itu

Akan membebaskan hatiku dari semua derita

Apakah aku mencintaimu, aku tak tahu

(Goethe: Liebesgedichte für Friederike)

Tanggal 2 April 1770, Johann Wolgang von Goethe tiba di Strasbourg untuk melanjutkan studi ilmu hukum dari Universitas Leipzig ke Universitas Strasbourg. Ia berada disana selama 1 tahun 4 bulan, namun dengan waktu yang singkat tersebut, Goethe jatuh cinta pada seorang gadis, anak dari seorang pastur bernama Friederike yang dikenalnya di desa Sesenheim. Goethe kemudian menuliskan perasaannya pada sebuah sajak di atas: Liebesgedichte für Friederike, Sajak Cinta untuk Friederike).

Strasbourg bukanlah Paris yang dikenal dengan kota cinta—kota para pecinta, tempat mereka mencari inspirasi dan cinta. Namun memang Strasbourg merupakan entrée ke Paris, jadi wajar aura-aura cinta sudah terasa oleh Goethe, walaupun ia tidak berada di Paris. Begitulah Paris dengan pesona cintanya disamping berbagai mahakarya seni dan arsitektur indahnya menggoda manusia untuk mengunjungi kota tersebut.

Bagaimana jika kita berandai-andai dan mengaktifkan imajinasi untuk pergi ke Paris, mencari sesuatu, pemikiran, dan cinta? Baiklah kalau begitu, biarkan aku yang memulainya:

Pagi itu aku melangkah menuju sebuah menara berketinggian 300 meter. Menara tersebut disusun dari 15 ribu keping metal yang dipateri menjadi satu. Beratnya mencapai 7 ribu ton serta bertumpu pada empat kaki penyangga dengan fondasi dasar dari beton. Gustave Eiffel membangunnya pada tahun 1889. Akhirnya aku sampai dan kemudian naik lift hingga puncak Eiffel dan terlihat indah pemandangan kota Paris. Di situ pula aku memulai kontemplasi tentang kehidupan dan cinta.

Sesaat aku memikirkan kehidupanku: kuliah, kerja, dan cinta. Hal terakhir ini yang memang ingin aku cari. Terlihat di jalanan para pasangan yang saling bergandengan tangan, berpelukan, mesra. Di antara mereka, pasangan madya: pria bermantel coklat dan wanita bersyal merah yang paling membuatku tertegun. Ketika aku melewatinya, terlihat wajah wanita itu pucat dan tangan kiri pria memeluk hangat pasangannya itu. Mungkin, wanita itu sedang sakit, ujarku dalam hati, dan sang pria dengan setia mengantar wanitanya pergi kemanapun pergi.

Kemudian aku memandangi sebuah keluarga: ayah, ibu, dan 3 orang anak bercanda ria ketika aku mampir sejenak di restoran Les Deux Magots, tempat dimana Sartre, Beauvoir dan Camus biasa nongkrong. Aku keluar dari Les Deux Magots sambil membayangkan bagaimana keluargaku nanti: istri dan anak-anakku. Aku kemudian menuju sebuah katedral, duduk di bangku taman, dan mengambil sebuah buku dari ranselku: Notre-Dame de Paris: 1482. Tahun 1831 Victor Hugo menulis novel yang mengisahkan katedral Notre-Dame yang ada di depanku. Aku memandanginya lama, indah.

Hari mulai tenggelam. Matahari segera menghilang. Aku kembali berjalan dan berhenti di sebuah taman, duduk. Kemudian aku membaca Rousseau berjudul Walden. Buku ini yang menginspirasi behavioris BF Skinner untuk menulis Walden II, kisah tentang masyarakat impian yang teratur oleh postulat-postulat behavioristik. Sambil membaca aku membayangkan Indonesia, tanah air yang bisa dibilang jauh dari harapan Rousseau dan Skinner dalam bukunya.

Matahari benar-benar ingin lenyap, sudah condong ke barat. Aku mulai bergegas. Sebelum pergi dari taman, aku membaca Liebesgedichte für Friederike. Perlahan kata demi kata aku baca: Apakah aku mencintaimu, aku tak tahu... Aku hanya melihat wajahmu sekali saja... Aku memandang di matamu sekali itu... Akan membebaskan hatiku dari semua derita... Apakah aku mencintaimu, aku tak tahu. Sajak yang benar-benar menyentuh hati. Sayang, setelah Goethe memperoleh gelar dari Universitas Strasbourg, ia menemui Friderike untuk yang terakhir dan kembali ke Frankrut. Friederike menyangka bahwa Goethe akan kembali ke Strasbourg, namun ternyata tidak. Kemudian ia memberinya surat perpisahan kepada Goethe yang sangat membuatnya sedih: Jawaban surat perpisahan dari Friederike mengoyak hatiku... Aku sekarang baru pertama kali merasa kehilangan... Begitulah ekspresi kesedihan Goethe yang tertuang dalam tulisannya.

Aku menutup Liebesgedichte für Friederike, membuka roti dan memakannya, sambil memandangi taman yang dipenuhi para pasangan. Mereka mengobrol, bercanda bahkan berciuman. Rotiku habis dan matahari sudah tenggelam. Lampu taman menyala jingga membuat suasana menjadi semakin romantis. Aku menengok ke sebelahku: tak ada siapa-siapa. Tak ada cinta yang bisa diajak berbagi, layaknya para pasangan itu. Aku melamun: seseorang... siapakah seseorang yang akan berada disampingku, menemani duduk di taman sambil makan roti dan membaca sastra? Aku kemudian teringat sebuah lirik lagu berjudul Tentang Seseorang yang melantun indah di film AADC:

Cinta hanyalah cinta

Hidup dan mati untukmu

Mungkinkah semua tanya kau yang jawab

Dan tentang seseorang

Itu pula dirimu

Ku bersumpah akan mencinta


Tek.. tek.. tek.. Aku membuka mata, melihat jam weker berdetak yang terletak di sebelah monitor komputerku. Pukul 3.30 pagi. Mimpi. Aku bermimpi. Aku masih terbengong-bengong setengah sadar, mencoba merangkai kembali mimpiku.

Aku bangun dari kasurku, berjalan menuju pintu, membukanya. Kunyalakan lampu kamar mandi, membasahi wajahku yang kusut, lalu berwudlu, segarnya air pagi. Lalu kugelar sajadah, kupakai pakaian terbaikku. Allahu Akbar... dalam keheningan aku bersujud dan bersyukur. Mungkin inilah jawaban dari-Nya tentang pertanyaan yang ada dalam mimpiku yang akan membebaskan hatiku dari semua derita kehidupan.

 

Ruang Sunyi—8 Juli 2009

Beberapa jam setelah menonton Paris Je T’aimei

Duddy Fachrudin


Ada Apa dengan Cinta

Perempuan, datang atas nama cinta

Bunda pergi, karena cinta

Digenangi air racun jingga adalah wajahmu

Seperti bulan lelap tidur di hatimu

Yang berdinding kelam dan kedinginan

 

Ada apa dengannya?

Meninggalkan hati untuk dicaci

 

Lalu sekali ini aku lihat karya surga dari mata seorang hawa

 

Ada apa dengan cinta?

 

Tapi pasti aku akan kembali

Dalam satu purnama

Untuk mempertanyakan kembali cintanya

 

Bukan untuknya

Bukan untuk siapa

Tapi untukku

 

Karena aku ingin kamu

Itu saja.

(Rangga kepada Cinta, dalam ending AADC)

"Berawal dari buku berlanjut ke malam minggu." (Limbong--alm. Gito Rollies kepada Rangga, scene di toko Buku Kwitang)

Alih-alih belajar untuk UTS, saya malah mengambil CD film Ada Apa dengan Cinta dan kemudian memutarnya. Inilah film terbaik Indonesia, dan entah sudah berapa kali saya menontonnya sejak 2002. Tentu saja terbaik, karena selain bersama Petualangan Sherina yang membangkitkan perfilman Indonesia, AADC juga merupakan film yang punya karakter. Skenario yang ngena, pemilihan pemain yang cocok dengan tokoh yang diperankan, serta alunan soundtrack yang mengaduk emosi, membuat AADC layak menyanjung predikat film terbaik Indonesia saat ini.

AADC berbicara tentang dua dunia yang berbeda antara Rangga dan Cinta. Yang satu unik, berbeda, menyendiri tanpa teman, dan menyukai sastra. Sementara satunya lagi gaul layaknya remaja, memiliki sahabat yang setia, dan ke mana-mana harus selalu bersama. Lalu bagaimana menyatukan keduanya?

Tentunya akan muncul konflik. Dan konflik menyangkut pilihan. Dan hanya pilihan yang diputuskan dari hati nurani terdalam yang dapat menyelesaikan konflik tersebut. Dan karena itulah Rangga dan Cinta bersatu di akhir cerita. Itulah cinta.


Ada apa dengan cinta?

Tidak ada apa-apa.

Hanya… karena cinta dapat membuat orang terlena.

 

Ada apa dengan cinta?

Tidak ada apa-apa.

Hanya… karena cinta, seseorang dapat meneror lewat sapa dan kata.

 

Ada apa dengan cinta?

Tidak ada apa-apa.

Hanya... karena cinta, seseorang dapat depresi menderita.

 

Ada apa dengan cinta?

Tidak ada apa-apa.

Hanya… karena cinta, Luffy dan kawan-kawannya dapat menerjang samudra yang penuh gelora.

 

Ada apa dengan cinta?

Tidak ada apa-apa.

Hanya… karena cinta, seseorang dapat mewujudkan impian dan cita.

 

Ada apa dengan cinta?

Tidak ada apa-apa.

Hanya… karena cinta, kami membangun Rumah Impian Indonesia.


Cinta adalah pilihan. Dan pilihan yang diputuskan dari hati nurani terdalam yang akan membuat cinta itu abadi. Oleh karena itu, dari sekian banyaknya pilihan yang ada dalam kehidupan ini, kami memilih membangun Rumah Impian Indonesia. Dan siapapun yang ada di Rumah Impian Indonesia akan berbagi cinta, impian dan cita. Kami sudah memutuskannya. Lewat cinta kami membangunnya.

Tak usah bimbang, karena ini tujuan mulia. Tak usah ragu karena kami ada untukmu. Terima kasih Kawan, terima kasih sudah bergabung. Dan kita akan menjalankannya bersama-sama. Lewat cinta.


Ruang Cinta, 14 November 2010

Setelah menonton AADC untuk kesekian kalinya…

Duddy Fachrudin