Showing posts with label inspirasialamku. Show all posts
Showing posts with label inspirasialamku. Show all posts

Friday, August 17, 2012

Hikmah, part # 3 (habis)

Momen Spesial

Apa momen spesial Anda? Apakah saat hari pernikahan Anda? Atau ketika pertama kali jatuh cinta? Atau meraih sebuah penghargaan atas prestasi Anda? Mungkin dari ketiga hal itu salah satunya merupakan momen spesial dalam hidup Anda.

Mungkin saya berbeda jika ditanya apa momen spesial dalam hidup saya. Tahun 2007 saya memutuskan untuk tidak meneruskan kuliah di ITB dan memilih pindah ke Fakultas Psikologi. Sebuah keputusan terpenting dalam hidup saya yang mungkin diangap bodoh oleh orang lain. Namun, alhamdulillah ternyata Allah memberikan jalan bagi saya untuk berkembang sesuai minat dan potensi yang selama ini belum tergali. Di Psikologi saya banyak belajar dan bertemu orang-orang luar biasa, salah satunya adalah seorang dosen, sahabat, dan teman dalam berbagi ilmu dengan ikhlas yaitu Kang Tauhid Nur Azhar. Lewat beliau saya belajar banyak, bukan hanya pada materi kuliah, tapi bagaimana menyikapi kehidupan.

Kadang saya suka bertanya, "Apakah saya bisa bertemu dan belajar pada Kang Tauhid jika saya tidak memutuskan kuliah di Fakultas Psikologi Unisba?" Entah, hanya Allah yang tahu. Yang penting sekarang adalah bersyukur atas nikmatnya yaitu dipertemukan dengan orang yang membuat saya lebih memiliki arti hidup.

Kata Ibu

Pada suatu malam yang indah di sebuah rumah sederhana di sudut kota, tampak 2 keluarga dari pihak laki-laki dan pihak perempuan berbahagia bersilaturahmi saling sapa penuh cinta. Ditengah-tengah obrolan hangat, seorang ibu dari pihak laki-laki berkata, "Kalo Duddy nggak pindah ke Unisba mungkin nggak ketemu neng Nita."

Itulah hikmah menurut ibu saya, ibu no. 1 di dunia tentang momen spesial saya. Betul juga, walaupun sekali lagi Allah yang lebih tahu. Mungkin memang inilah jalan-Nya, jalan saya dipertemukan kapada calon istri saya.

Calon Istri?

Masih ingatkah dengan pelatihan hipnoterapi, kompetisi bisnis, dan teman-teman baru dari UPI? Subhanallah... Sekali lagi mungkin inilah jalan Allah, ada banyak hikmah di setiap kejadian. Ketika saya ikut dalam sebuah komunitas outbond training saya bertemu dengan seorang Kawan yang kemudian merekomendasikan saya untuk memberikan pelatihan hipnoterapi dasar di UPI. Di sana saya bertemu teman-teman Psikologi UPI baik yang menjadi panitia maupun peserta.

Kemudian silaturahim itu tidak terputus begitu saja, karena berawal dari kompetisi bisnis yang kami ikuti, saya meminta bantuan kepada teman-teman yang menjadi panitia ketika di UPI itu untuk membantu pelaksanaan event berikutnya yang diikutsertakan pada program kompetisi bisnis. Inilah jalan Allah...  meskipun sesungguhnya saya malas ikut kompetisi tersebut karena sedang fokus skripsi, tapi atas ajakan seorang Kawan akhirnya saya menyerahkan proposal bisnis, dan lolos ke final. Saya berdo'a beberapa kali agar tidak lolos tapi Allah berkehendak lain. Dan hikmah terbesarnya saya mengikuti kompetisi bisnis tersebut saya dipertemukan kembali dengan teman-teman dari UPI.

Dari pertemuan kembali itulah kemudian saya menemukan jodoh saya.

Alhamdulillah dengan ijin Allah di bulan Mei 2012, saya dan keluarga melamarnya tepat sehari setelah ibu saya mengatakan, "Kalo Duddy nggak pindah ke Unisba mungkin nggak ketemu neng Nita."

Keajaiban "nikah2011"

Tidak ada yang tidak mungkin ketika Allah sudah memutuskan sesuatu. Seperti misalnya dalam sebuah film religi berjudul "Ketika Cinta Bertasbih". Dalam film tersebut, Azzam diceritakan sedang mencari pendamping hidup. Namun setelah pencarian yang berbulan-bulan ia tidak berhasil mendapatkannya. Ia sendiri ingin memiliki istri seperti Ana, namun Ana sudah ada yang melamar. Ana kemudian menikah, namun karena suatu hal ia bercerai. Dalam hati kecilnya ia ingin menjadi istri bagi seseorang yang dulu telah menolongnya yang tidak lain adalah Azzam. Azzam tidak mengetahui bahwa Ana telah bercerai. Ia yang pasrah belum menemukan pendamping hidup akhirnya dipertemukan "kembali" oleh Ana. Mereka berdua pun menikah.

Meskipun dalam film, saya percaya banyak keajaiban Allah yang bertebaran di muka bumi ini. Dan saya semakin percaya setelah saya mengalaminya sendiri. Sejak meniatkan diri menikah pada tahun 2011, di akhir tahun 2010 saya mengganti password FB saya menjadi: nikah2011. Alasannya agar saya terus berikhtiar untuk mewujudkan impian tersebut.

Pada bulan Januari 2012, salah seorang teman dari UPI juga memiliki password yang sama. Siapakah ia? Ia tidak lain adalah calon istri saya. Saat itu perasaan saya biasa saja. Namun seiring berjalannya waktu dan saya dan ia banyak memiliki kesamaan terutama tentang visi hidup, perasaan itu berubah, dari yang netral menjadi positif cinta.

Mungkinkah ia jodoh saya? Mungkin. Karena ia sendiri tidak sedang dilamar oleh orang lain. Maka saya pun mengajukan diri untuk melamarnya.

Jangan Menyesal

Alhamdulillah, 30 hari dari hari ini insya Allah kami akan menikah. Sebuah penantian dan niat yang telah terpatri di hati masing-masing hingga menuangkannya dalam bentuk password. Dan Allah menjawab niat dan do'a kami hingga kami dipertemukannya dengan cara yang indah. Beginilah cara Allah mempertemukan saya dengannya. Jadi mengapa harus menyesal meninggalkan ITB?

Jangan pernah menyesal, dan syukurilah setiap kejadian yang kita alami. Karena ada hikmah yang Allah berikan kepada kita. Jangan bersedih, jangan menyesal. Mantapkan niat, perbanyak do'a dan tentunya ikhtiar. Allah yang meminta kita untuk menikah, maka Allah akan memudahkan, Allah akan menyediakan fasilitas dan sarana-Nya. Dan allah akan mempertemukan kita dengan pendamping hidup kita dengan cara-Nya yang luar biasa indah.

I'tikaf Jonggol 1433 H, 17 Agustus 2012

Duddy Fachrudin

Thursday, August 16, 2012

Hikmah, part # 2

I'tikaf Jonggol 1432 H

Di kala kegalauan skripsi pada Ramadhan tahun lalu, saya mendapat sms tentang program i'tikaf Ramadhan bertema "wirausaha" di Jonggol dari seorang Kawan lama satu koperasi dulu. Saya ingin ikut, tapi karena fokus skripsi, maka 10 hari terakhir saya habiskan di Cirebon hingga lebaran. Akhirnya informasi itu saya berikan kepada seorang Kawan dan teman saya tersebut sangat tertarik untuk mengikutinya.

Let's Move On!


Apa jadinya jika seseorang terfokus pada satu hal namun justru aktivitas tersebut membuatnya tidak produktif? Tentunya ia telah menyia-nyiakan waktunya. Dan orang-orang yang menyia-nyiakan waktunya adalah orang yang merugi. Maka sudah saatnya saya bergerak menuntaskan skripsi karena saya sudah berjanji untuk lulus tepat waktu.

Di saat pikiran terpusat pada skripsi, seorang Kawan malah menyuruh saya mengikuti sebuah program kompetisi bisnis nasional. Saya sebenarnya malas, tapi akhirnya proposal  tentang bisnis pelatihan dibuat juga pada H-1 deadline penerimaan proposal. Kemudian dalam hati berdo'a: "Semoga tidak lolos."

Namun takdir Allah berkata lain saya dan tim justru masuk semifinal dan harus presentasi di hadapan juri saat itu juga. Hasilnya? Saya lolos ke final dan harus mengikuti kompetisi selama 2 bulan di bulan Desember 2011-Januari 2012, padahal di saat-saat itu skripsi harus sudah selesai bahkan di forumkan.

Oktober 2011

Kurang lebih sebulan setengah sebelum kompetisi dimulai saya mendapat undangan untuk mengisi training pembelajaran hipnoterapi dasar selama 2 hari di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Saya sendiri mendapat rekomendasi dari seorang Kawan yang mengenal saya di sebuah komunitas outbond training yang saya ikuti di bulan Maret 2011. Dari situlah ia mengenal saya sebagai trainer berlisensi untuk mengajarkan hipnoterapi dari skill dasar hingga lanjutan.

Sejak saya memberi pelatihan pada pertengahan Oktober tersebut saya mengenal beberapa Kawan baru dari UPI terutama jurusan Psikologi. Tentunya hal ini membuka kesempatan untuk bisa silaturahim kembali dalam kesempatan yang sama maupun berbeda.

Beberapa hari sebelum Idul Adha 1432 H. Saat itu saya duduk termenung memikirkan kompetisi. Saya juga memikirkan tempat yang tepat untuk mengadakan pelatihan hipnoterapi selanjutnya yang diadakan pada bulan Desember. Di saat itu pikiran melayang mengingat teman-teman baru dari UPI. Spontan saya memberitahu mereka dan ingin bertemu mereka.

Tak Ada Yang Kebetulan

Akhirnya saya mendapat bantuan dari teman-teman UPI ketika mengadakan pelatihan hipnoterapi dasar di bulan Desember. Dan berkat bantuan mereka pula satu event yang juga masuk dalam program kompetisi yang kami ikuti terselenggara berkat bantuan mereka. Alhamdulillah... Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Saya bertemu dengan seorang Kawan di komunitas salah satu provider outbond training, kemudian ia merekomendaskan saya memberi pelatihan hipnoterapi, saya bertemu teman-teman Psikologi UPI yang menyelenggarakan event tersebut, dan kini mereka membantu event
kami.

Di akhir program kompetisi bisnis, dari 80 peserta finalis seluruh Jawa kami tidak termasuk salah satu pemenangnya. Saya kecewa? Tidak, karena tentu saja saya mendapatkan pengalaman dan ilmu baru selama 2 bulan kompetisi. Selain itu ada satu hal yang saya dapatkan yang justru nilainya jauh melebih hadiah para pemenang: 15 juta, IPAD, & Playbook BB.

Apakah itu?

Bersambung...

I'tikaf Jonggol 1433 H, 16 Agustus 2012

Duddy Fachrudin

Wednesday, August 15, 2012

Hikmah, part # 01

"Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmu lah engkau berharap."
(QS. Al Insyirah: 7-8)

Sore ini, 15 Agustus 2012 saya membuka MP dan sebelum blog yang saya buat sejak 2006 itu terbuka, muncul terlebih dahulu pernyataan dari CEO MP:

"From December 1st, we will unfortunately no longer be able to support Multiply in its current form - notably we will be removing the social networking and content sharing part of Multiply (photos, videos, blogs, social messaging, etc.). We have decided to discontinue providing and hosting these services, as we have concluded that other Internet sites who are committed to social networking services will do a better job serving you than we can."

Saya kemudian browsing untuk melihat lebih jauh apakah isu itu benar. Dan ternyata beberapa artikel di beberapa blog maupun portal berita menuliskan hal yang sama bahwa layanan blog di Multiply per 1 Desember 2012 akan ditutup.

Sore itu menjelang Ashar saya terdiam. "Ditutup dalam hati saya, So?"

Hanya itu yang keluar dalam hati. Multiply kini lebih fokus pada pelayanan online shope-commerce kepada penggunanya dan menghapus layanan blog biasa yang memuat artikel, berbagi foto dan video. Saya termasuk pengguna yang kedua. Jadi www.avonturir.multiply.com sebentar lagi menghilang dari dunia maya.

Bagi saya tak masalah jika layanan blog ini ditiadakan, hanya saja saya harus memindahkan berbagai tulisan (terutama) ke tempat lain, karena ada beberapa tulisan yang tidak di-save di komputer. Sementara blog baru pun segera disiapkan (walaupun sebenarnya sudah dibuat 1-2 bulan yang lalu).

Mungkin sudah saatnya berpindah ke blog lain atau bahkan suatu situs tertentu yang terintegrasi dengan bisnis yang insya Allah akan saya kembangkan. Mungkin juga agar saya lebih berkembang, bukan hanya menulis di blog ini.

Ada Hikmah di Setiap Kejadian, Lalu Kenapa Harus Bersedih?

Ada seorang Kawan (perempuan) di tempat kerja yang merencanakan untuk segera menikah dengan calonnya. Namun, ternyata keluarga laki-laki tersebut tidak menyetujui karena kakak sang calon belum menikah. Akhirnya ia batal menikah. Ia mencoba tegar menghadapi kenyataan itu.

Bagaimana jika itu terjadi pada diri kita?

Entah. Mungkin ada yang sedih, kecewa, marah, murung dan berjuta emosi lainnya. Atau mungkin ada yang mengatakan, "Mungkin memang bukan jodohku."


Hampir semua orang berdo'a apa yang diinginkannya. Misalnya si fulan berdo'a ingin menjadi orang kaya, memiliki rumah mewah dan mobil keren. Suatu yang wajar jika manusia berdo'a seperti itu karena kecenderungan manusia ke arah itu sangatlah besar, seperti firman Allah pada surat Ali Imran ayat 14:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Kita memang menginginkan hal tersebut, namun kadang kita kadang tidak bertanya dalam hati: Apakah saya butuh itu? Maka Allah yang lebih tahu kebutuhan kita mungkin akan mengabulkan do'a kita tapi bukan yang kita inginkan, namun yang kita butuhkan.

Keinginan Menikah 2011

Sejak akhir 2010 saya menargetkan tahun 2011 adalah akhir masa sendiri alias masa membujang. Tidak jarang dalam setiap do'a terselip harapan menikah pada tahun 2011. Do'a saja tentu harus dibarengi ikhtiar, maka saya melakukan usaha untuk memperkenalkan dan ta'aruf kepada perempuan yang juga setidaknya memiliki niatan yang sama, yaitu menikah pada waktu dekat.

Alhamdulillah karena ada target dan do'a maka ikhtiar pun diupayakan. Dan hasilnya? Ada yang dekat dengan saya, namun setelah saya mengatakan untuk melamar dan menikahinya, justru perempuan itu lebih condong tidak siap. Hingga akhirnya 2011 pun berlalu. Tak ada akad nikah, tak ada walimatul ursy. Ambil hikmahnya: mungkin ada rencana Allah yang lain dibalik ini semua.

Mari melupakan masa lalu mari menjemput masa depan, atau istilah kerennya "Let's Move On!". Do'a dan harapan terus dipanjatkan karena siapa tahu bukan di tahun 2011, karena menurut Allah bukan saatnya bagi saya menikah di tahun itu. Atau bahasa lain, "Saya belum butuh menikah di tahun 2011."

Betul. Karena skripsi saya tertunda karena suatu hal, dan hal tersebut membuat saya kecewa karena saya harus menemukan fenomena dan judul baru. Tapi mungkin, inilah rencana-Nya. Di balik itu, saya pernah berucap kepada seorang Guru bahwa ketika wisuda nanti saya ingin ada pendamping selain orang tua. Jadi, adakah sesuatu di balik ini semua?

Saya tidak tahu.

Bersambung...

I'tikaf Jonggol 1433 H, 15 Agustus 2012

Duddy Fachrudin


Monday, July 16, 2012

Mempersiapkan Ramadhan Menjemput Surga

Ramadhan Tiba
Ramadhan Tiba
Ramadhan Tiba

Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Ramadhan
(Opik)
 
Tik…tik…tik… jarum jam terus berdetik meninggalkan waktu yang terus berlalu, mengiringi semilir angin di subuh pagi bersamaan dengan semburat mentari. Pagi menyongsong semangat manusia & makhluk-Nya. Bergegas mereka menjemput rizki yang telah disediakan-Nya. Tak ada hasil maksimal bagi si pemalas yang masih setia dengan kasur empuknya. Menyongsong hari, menyambut pagi. Mari… mari kita berlari menuju cahaya serta ridha-Nya.

RAMADHAN TIBA! Seru seseorang dalam hati kecilnya. Mungkin ia adalah aku, kamu, atau kita. Kemudian ada orang lain menyahut, HEY SEBENTAR LAGI RAMADHAN! Dan aku mendengar seorang siswa yang kutemui di sudut persimpangan jalan mengatakan kepada 2 orang temannya tentang KABAR GEMBIRA.

KABAR GEMBIRA? APAKAH ITU?

Siswa itu mengatakan, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya), “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan puasa dalam bulan tersebut atas kalian. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup serta setan-setan dibelenggu. Allah menjadikan dalam bulan itu sebuah malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang terluput dari kebaikannya (di bulan Ramadhan), maka sungguh dia telah terluput untuk mendapatkannya.”” (HR. Ahmad dan An-Nasa`i dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu)

Aku merenung. Beberapa hari lagi Ramadhan. Maka sejak hari ini aku persiapkan. Dengan hati dan iman aku menyambut Ramadhan. Tentunya Ramadhan kali ini harus berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kenapa? Karena aku ingin menjemput surga. Bukankah pahala begitu berlimpah. Bukankah pintu surga dibuka seluas-luasnya? Aku ingin memberi yang terbaik. Tentunya kamu juga, iya kan?

Jadi?
 
Tunggu apa lagi?

BERGEMBIRALAH, KAWAN… serta perbanyak amal di bulan Ramadhan!

Ramadhan tiba semua bahagia
Tua dan muda bersuka cita
Bulan ampunan bulan yang berkah
Bulan terbebas api neraka

Burung Irian Burung Cendrawasih,
Jemput Ramadhan dengan penuh Cinta dan Kasih 

Menjemput Ramadhan, 16 Juli 2012

Duddy Fachrudin

Saturday, February 18, 2012

Miracle dan MYFA

"Qur'an kreatif? Memangnya bisa, Qur'an dikreasikan? Itu kitab suci loh!" Mungkin demikian yang Anda pikirkan ketika mendengar kata "kreatif" disematkan pada Al Qur'an. Tentu saja yang dimaksud dengan kreatif di sini bukanlah mengubah-ubah isi Al Qur'an, melainkan menyajikan Al Qur'an apa adanya, namun dengan cara yang sangat kreatif dan menarik.

Pihak yang paling menonjol dalam menyajikan Qur'an kreatif adalah Syaamil Al Qur'an, salah satu unit bisnis strategis dari penerbit Sygma Publishing. Produk unggulan Syaamil Qur'an saat ini adalah Miracle the Reference (Miracle) dan yang terbaru adalah MYFA (My First Al Qur'an), Al Qur'an untuk anak-anak.

"Kreatifitas yang kami sajikan dalam Miracle dan MYFA adalah dari segi desain tampilan yang menarik, feature produk yang sangat lengkap, serta inovasi-inovasi yang selalu baru. Orang kan harus dibuat tertarik terlebih dahulu sebelum mau membaca dan mendalami Al Qur'an. Kita raih dulu emotional appeal pembaca, baru kemudian mereka merasakan manfaat produk," ujar Febrianto Z. Mooduto, Manager Marketing Komunikasi Sygma Publishing. Lebih lanjut ia menjelaskan, Sygma Publishing adalah produsen Qur'an pertama yang mengandalkan kreativitas dan inovasi sebagai unggulannya.

Tujuan utama kreatifitas ini adalah untuk memudahkan umat Muslim memahami Al Qur'an. "Al Qur'an tidak hanya perlu dibaca, tetapi juga harus dipahami. Dengan Miracle dan MYFA, upaya memahami Al Qur'an menjadi sangat mudah. Kalau sudah paham, maka akan lebih mudah juga mewujudkan pesan-pesan dalam Qur'an tersebut," tambah Febrianto. "Apalagi Syaamil Qur'an juga cocok untuk semua anggota keluarga, mulai dari usia SD hingga usia kakek-nenek sekalipun. Miracle untuk usia remaja hingga dewasa, sedangkan MYFA untuk anak. Bayangkan jika seluruh keluarga rajin membaca Al Qur'an dan memahaminya dengan benar, insya Allah keluarga itu dirahmati Allah Swt."

Unsur kreativitas Miracle sudah terlihat dari banyaknya feature produk, yakni mencakup 22 keunggulan dalam satu Al Qur'an: terjemah tafsiriyah perkata, sistem pewarnaan dan panduan tajwid, terjemah kementrian Agama RI, tafsir Ath Thabari dan Ibnu Katsir, hadits shahih, do'a dan dzikir, kosakata, asbabun nuzul, penjelasan asmaul husna, indeks, sirah nabawiyah, peta, DVD belajar membaca Al Qur'an, dan sebagainya. Desain isi Miracle juga nampak cantik elegan, rapi, tapi tetap mudah dibaca. Semua ini membuat Miracle tidak membosankan dan membuat pembacanya betah berlama-lama menelaah kandungannya untuk dijadikan panduan hidup.

Hal ini diakui Eriyanti, seorang wartawati senior sebuah surat kabar di Bandung. "Saya berterima kasih sekali loh sama Sygma. Soalnya kalo baca Miracle nggak abis-abis. Ingin terus-terusan baca. Saya biasanya membaca Al Qur'an biasa paling lama 30 menit, tapi kalo baca Miracle bisa berjam-jam. Kreativitas yang disajikan Miracle luar biasa. Membaca Miracle seperti tenggelam dalam tahmid, takbir, dan hamdalah. Bangga sekali melihat hasil para ahli yang bersatu untuk kemuliaan Islam," ujarnya antusias.

Tidak heran jika dengan kelebihannya ini, Miracle selalu berhasil mencapai rekor penjualan. "Hanya dalam waktu satu bulan, Miracle the Reference sudah dipesan hingga puluhan ribu eksemplar," jelas Febriyanto lagi.

Keunggulan kreativitas dalam Miracle dilanjutkan dalam MYFA. MYFA yang terdiri dari 4 buku ini menyajikan 12 keunggulan: khat tajwid, yang jelas dan tepat untuk dibaca anak-anak, terjemah, adab membaca Qur'an, kisah-kisah sirah nabawiyah, peta, pengetahuan tematik ayat, tokoh-tokoh Islam dunia, do'a harian, kamus 3 bahasa (Indonesia, Arab, Inggris), dan sebagainya. Belum lagi ilustrasi yang menarik dan penuh warna, membuat anak membaca Qur'an seperti layaknya membaca buku kesukaan mereka.

"Kami merancang MYFA sekreatif mungkin agar buah hati kita tertarik dengan Al Qur'an sejak pertama kali mereka memilikinya. MYFA menjadi jembatan interaksi anak-anak dengan Al Qur'an. Harapan kami, anak akan terbiasa menjadikan Al Qur'an sebagai sahabat dalam kehidupannya," imbuh Febrianto.

Seluruh upaya kreatif yang dilakukan Syaamil Al Qur'an dalam Miracle dan MYFA ini tentu saja tidak mengurangi unsur kesahihan referensi yang digunakan. Semua materi dalam kedua pokok ini berdasarkan referensi yang sahih dan komprehensif. Cukup Miracle dan MYFA di rumah, insya Allah seluruh keluarga merasakan manfaatnya untuk kehidupan dunia-akhirat.

(From Sygma Publishing)

http://syaamilquran.com/
http://www.sygmapublishing.com/

Sunday, January 29, 2012

Cahaya

Ya Allah jadikanlah di dalam hatiku cahaya
Di dalam ucapanku cahaya
Jadikanlah pendengaranku cahaya
Jadikanlah penglihatanku cahaya
Jadikanlah dari belakangku cahaya
Dari depanku cahaya
Dari atasku cahaya
Dari bawahku cahaya
Dan jadikanlah aku cahaya

(HR. Abu Dawud)

Monday, January 23, 2012

Aku Masih Setia

Woy bangun!
Bangun tidur, tidur lagi
Bangun lagi, tidur lagi
Banguuunnn... Tidur lagi!
(alm Mbah Surip)

17 Agustus 2009. Pukul 11.00.
Bunyi-bunyian di luar membangunkanku. Sorak sorai suara orang-orang beserta iringan tetabuhan alat musik mengusik tidurku. Para penduduk sepertinya sedang merayakan hari paling bersejarah di republik ini, kontras sekali dengan diriku yang masih asik dengan selimut dan bantal guling. Berisik! Aku ngedumel dalam hati. Tapi walaupun begitu aku berterima kasih, karena mereka membantuku bangun dan memaksa tubuh serta menyeret kakiku menuju kamar mandi.

Jauh-jauh hari sebelum hari kemerdekaan tahun ini sebenarnya aku sudah berencana untuk keliling Bandung sejak fajar terbit hingga matahari terbenam. Aku ingin mengunjungi tempat-tempat bersejarah, terutama Bandung bagian Utara, menikmati pemandangan dan desiran angin Dataran Tinggi Bandung bersama Abe—sepedaku. Mungkin saja melalui angin Bandung Utara, aku bisa mendengar rintihan Dayang Sumbi—Ibunda Sangkuriang yang dicintai dan ingin dinikahi oleh anaknya sendiri. Konon rintihan itu berasal dari Kawah Ratu—salah satu kawah Gunung Tangkubanperahu yang terdengar seperti tangisan seorang Ibu yang menanggung beban akibat ulah anaknya sendiri.


Kawah Ratu Gunung Tangkubanperahu


Namun, rencana jalan-jalan menyambut 17-an tak kunjung kesampaian. Beberapa hari ini—semenjak liburan semester, aku lebih suka menikmati tidur di pagi hari. Malam sampai subuh biasa aku gunakan untuk membaca dan menulis. Apalagi sekarang aku sedang mengedit Academic Psychology Revolution menjadi naskah baru yang rencananya siap dilontarkan ke penerbit. Menulis di malam hari lebih banyak mengundang inspirasi, mungkin karena nggak banyak gangguan sehingga lebih khusyu. Pagi-paginya baru aku tidur.

Itulah mengapa rencanaku gagal, walau begitu setelah mandi aku harus keluar dari kamar untuk menikmati hari. Bisa mati bosan aku diruangan 3x3.5 dan berantakan itu. Mengenai bosan, aku jadi teringat kata-kata Soe Hok Gie: Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di dalam kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras, diusap oleh angin, dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil. Dan orang-orang seperti kita tidak pantas mati di tempat tidur. Aku segera menyiapkan plan kasar—mau kemana aku pergi hari ini.

Kusiapkan ransel beserta sebuah buku. Buku? Ya, kemana-mana aku terbiasa membawa buku. Kebetulan saat itu aku sedang membaca The Success Principles-nya Jack Canfield—pengarang Chicken Soup For The Soul atau kalau dalam bahasa kitanya Sop Ayam Untuk Jiwa. Dulu waktu booming-boomingnya buku itu di tahun 2001-2003 aku nggak ngeh dengan isinya, karena dikira resep masakan seperti sop ayam dan sejenisnya, tapi setelah beberapa waktu berselang ternyata beda jauh dengan hipotesis awalku. Setelah siap dengan berbagai bawaan, kuantar Abe keluar pintu kost. Sampai di luar memang banyak orang, bahkan mereka menutupi jalanan sehingga aku harus berpunten-punten ria agar mereka membuka ruang untuk aku dan Abe.

Sebenarnya aku bingung masih kemana aku pergi, walau sudah menyiapkan plan. Aku ingin kembali ke rencana awal, walau hanya sebatas Dago Pakar yang kukunjungi, tapi ketika Abe sudah memasuki DU (Dipatiukur) aku membelokkannya ke Jalan Hasanudin kemudian berhenti di ATM Unpad. Setelah mesin ATM memuntahkan isi yang kuinginkan, Abe kembali memasuki DU.

Etape 1: dari DU aku akan ke Veteran melalu Dago-Merdeka-Lembong-Veteran. Trek yang dilalui lurus dan menurun sehingga tak lama berselang aku sudah sampai. Mau apa aku di Veteran? Hehe... mau apa lagi jika tak membeli helm sepeda. Selagi uang dari beasiswa masih ada, pikirku.

Sebenarnya, 1 tahun 8 bulan yang lalu, ketika aku berkenalan dengan Abe, saat itu juga aku tak lupa membeli sebuah helm United jenis F22-Raptor warna hitam. Namun beberapa bulan setelahnya aku merelakan helm itu diambil orang setelah aku dan Abe mengalami kecelakaan. Ceritanya sekitar maghrib, aku sedang menggoes Abe di Surapati menuju tempat kost. Aku melihat ke belakang memastikan tak ada kendaraan. Setelah yakin tak ada mobil atau motor yang dekat di belakang Abe, dengan tenang aku membelokkan handle bar atau stang ke arah kanan untuk menyebrang. Namun sedetik kemudian... Wuushhh... sebuah motor sangat cepat menyerempet bagian kanan Abe. Aku terjatuh ke aspal, helm terlontar ke depan (karena tidak aku ikatkan tali webbingnya). Apa yang terjadi? Tidak terjadi apa-apa padaku, hanya lecet di pergelangan tangan dan kaki, sementara Abe pun tak mengalami kerusakan berarti. Justru yang menyerempetku tersungkur jatuh dan terseret beberapa meter bersama motornya tepat di tengah jalanan. Untung saat itu tak ada mobil atau kendaraan lain yang melintas. Aku terduduk diam. Aku bersyukur tak terjadi apa-apa denganku, tapi saat itu kereta kencana (kematian versi Opick dalam lagunya Khusnul Khotimah) sangat dekat denganku. Aku merasa tak siap maut menjemput, apalagi saat itu aku belum shalat maghrib. Astagfirullah... Sedetik kemudian dua pengendara motor menghampiriku, mereka marah-marah. Ya, mungkin aku salah, tapi sebelum menyebrang tadi aku sudah memastikan tak ada kendaraan dalam jarak dekat. Mungkin saja mereka tak menghidupkan lampu motor atau sedang rusak lampunya, batinku. Mereka terlihat lebih menderita dibandingkan aku. Celana sobek tergores aspal, lecet yang lebih parah, dan motor yang mungkin agak penyok-penyok akibat menghantam jalanan. Mereka meminta ganti rugi, haa... tapi tak kugubris, karena yang saat itu aku pikirkan adalah sebuah kematian.

Mereka akhirnya pergi, dan saat itu aku masih merenung, duduk di trotoar, lupa dengan segala hal yang telah terjadi. Akhirnya aku bangkit dan mendorong Abe. Kucari F22-Raptor yang terpental ke depan, namun tak ada. Saat itu aku melihat dua pengendara motor itu ingin pergi, dan sepertinya aku menangkap sesuatu pada salah satu tangan mereka. Bukankah itu helmku? Dan mereka pergi sebelum sempat kukejar. Aku kembali termenung dan menghampiri warung nasi goreng di seberang jalan untuk meminta air. Mereka berdua—mungkin sepasang suami-istri adalah saksi kejadian barusan, sang Suami berujar bahwa motor yang menyerempetku memang melaju dengan sangat cepat. Aku berterima kasih untuk segelas teh yang mereka berikan dan kesaksian itu, lalu aku pulang membiarkan kisah itu berlalu.


Sejak peristiwa itu aku belum membeli helm lagi, sampai akhirnya kini aku memutuskan untuk membawa pulang sebuah helm dari salah satu toko sepeda yang ada di Veteran. Beberapa hari sebelumnya aku sudah searching di internet untuk membeli helm yang mana. Pilihan awal tetap saja United, karena Abe pun keluaran United. Setelah melihat-lihat di sebuah toko, aku lebih ingin membeli helm batok yang biasa suka dipakai para skater. Beberapa toko aku masuki, selain melihat helm, aku juga mencuri pandang ke jejeran sepeda yang ada di toko itu. Kulihat berbagai sepeda MTB dan road-bike. Satu lagi yang menarik perhatianku adalah Seli atau Sepeda Lipat keluaran United. Ingin rasanya mencicipi mereka yang punya spesifikasi lebih canggih dari Abe. Hmm... apalagi Seli, walau disana tak melihat empunya Seli—keluaran Dahon, ingin sekali diri ini memilikinya, kalo lagi capek ngegoes tinggal lipat, terus naik angkot haha...

Akhirnya tibalah aku di sebuah dealer Polygon. Langsung aku melihat helm batok Polygon bermerek Volcano dan langsung menanyakan harganya. Lantas aku pikir-pikir dulu, sambil melihat berbagai sepeda Polygon berjejer seperti prajurit yang sedang baris. Seperti halnya di toko-toko sebelumnya, ingin rasanya membeli sepeda baru bermerek Polygon. Selain top brand sepeda dari negeri sendiri, Polygon dengan B2W (Bike To Work)-nya ikut menggerakkan orang-orang untuk bersepeda, selain ke kantor juga upaya menyelamatkan bumi tercinta ini dari global warming.

Adzan ashar menggema diiringi tumpahan air hujan dari langit. Aku tak bisa bergerak menuju toko berikutnya. Sambil menanti hujan reda, akhirnya kuputuskan untuk membeli helm di dealer Polygon saja. Aku melihat-lihat helm lain, ada Magma, Lava, Dakkar, F-40 Blazer United, dan helm keluaran Wimcycle. Setelah mencoba satu persatu sambil ngobrol sama si empunya toko yang kupanggil dengan Koh, aku mengambil Dakkar warna biru-silver-hitam. Kutebus helm itu dengan duit 150 ribu, walau harga aslinya 149 ribu. Ya sudahlah, seribunya buat bayar berteduh, hehe...

Helmet Dakkar

Langsung kupakai Dakkar di kepalaku. Sementara kardus helm yang segede gaban dilipat-lipat supaya bisa masuk ranselku. Kebetulan seorang pembantunya Koh dengan senang hati melipatkan kardus. Hujan sudah reda, kudorong Abe menuju sebuah bengkel sepeda bertuliskan Tenda Biru. Kemudian aku menanyakan seat post (tiang penyangga sadel) ukuran 25.4 cm. Kebetulan ada, merek Genio dan aku langsung meminta untuk mengganti seat post Abe yang lama. Kenapa harus diganti? Alasannya sederhana: karena kurang tinggi. Seat post yang lama tingginya sekitar 23 cm dan berbahan besi, sedangkan yang baru lebih dari 30 cm dengan bahan alumunium. Dengan seat post yang lebih tinggi, aku lebih asik ngegoes dan bisa meminimalisir rasa capek.

Saat di dealer Polygon dan Tenda Biru, aku sepertinya mengenal seseorang, tapi aku tak menyapanya. Mungkin ia Rully anak STT Telkom, teman lama ketika aku ikut kelas Entrepreneurship University, tapi lagi-lagi aku setengah tak yakin. Di sebelahnya ada seorang laki-laki berumur 50-an bertopi, memakai kaus putih, badannya agak gemuk. Mungkin ia ayahnya. Di Tenda Biru sepertinya mereka berdua menservis sepedanya.

Etape 2: aku melanjutkan perjalanan menuju Togamas melalui Kosambi-Gandapura-Cendana-Supratman. Tujuan kesana ingin ngecek One Piece jilid 52 apakah sudah ada atau belum. Selain itu juga numpang shalat ashar. Ternyata One Piece 52 belum keluar, aku malah beli yang jilid 25.

One Piece sudah menjadi bacaan wajib bagiku. Kini aku mengoleksinya, walau dulu sudah membacanya di berbagai persewaan buku. One Piece bukan hanya bacaan hiburan penghilang stres, karakter-karakter Bajak Laut Topi Jerami dalam karya Eichiro Oda itu: Monkey D. Luffy dan teman-temannya mengajarkan banyak hal, seperti berani bermimpi, leadership, friendship, tanggung jawab, perjuangan, dan team work. Jadi membaca One Piece sama seperti membaca buku-buku pengembangan diri kayak The Success Principles yang ada di ranselku.


Tak terasa matahari ingin tenggelam, senja sudah condong ke barat. Aku meminta bos Satpam mengeluarkan Abe dari himpitan motor-motor yang mengelilinginya. Si Satpam ini sudah akrab denganku, walau aku sendiri tak tahu namanya. Kalau aku dan Abe berkunjung ke Togamas, senyum ramahnya tak ketinggalan terlontar. Dan yang paling kuingat darinya adalah suka memindahkan Abe dari posisi parkir semula. Aku sempat mengira Abe dicuri orang.

Etape 3: sepertinya aku mau pulang. Namun di tengah jalan aku membelokkan Abe ke Ciliwung dari Supratman, saat itulah terlintas untuk jalan-jalan dulu ke Gramedia Merdeka. Rute yang dipilih adalah Ciliwung-Cihapit-Martadinata-Gramedia. Disana numpang shalat maghrib dan liat-liat buku lagi, barangkali ada buku atau majalah yang bisa dibaca.

Cuma satu jam aku disana. Setelah mahgrib, aku ke bagian majalah. Kebetulan ada majalah baru tentang sepeda: RideBike dan membahas seputar Seli. Ada yang tidak disegel plastik, hehe... lumayan, baca gratis. Halaman per halaman dibuka, mata kemudian khusyu memandangi Seli dari berbagai keluaran dan tipe. Hormon endorphine pun menyeruak ke seluruh tubuh. Otak memerintahkan untuk membelinya, tapi hati berkata: kalo ada duit ya...

Mungkin suatu saat aku membeli sepeda lagi—entah apakah Seli, MTB yang lebih canggih—downhill, cross country, atau road-bike, tapi untuk sekarang aku masih setia dengan Abe. Ada keinginan juga untuk mengganti frame atau parts, supaya lebih keren, tapi sepertinya tidak. Abe sendiri adalah singkatan dari Alang Bike, sementara kata Alang diambil dari ilalang. Hmm... jadi filosofinya adalah... Ah silakan Kawan menerka-nerka sendiri.

Selama hampir 2 tahun ini, aku selalu ditemani Abe kemana-mana. Ke kampus misalnya, aku hanya butuh 10-15 menit untuk sampe di kampus dari tempat kost. Artinya waktu yang dibutuhkan lebih cepat dibanding naik angkot yang bisa sampe 30-60 menit. Selain ke kampus, berbagai tempat yang biasa aku singgahi, seperti toko buku Togamas, Gramedia, Palasari, event pameran, kantor KKMB di Jalaprang, dan tempat-tempat lain bersama Abe. Jadi nggak ada salahnya aku tetap setia dengannya karena selama ini Abe memberikan yang terbaik.

Etape 4: malam sudah pekat dan adzan isya telah berkumandang. Aku pulang ke tempat kost melalui Dago-DU-Sekeloa dengan rajutan kisah.

Dalam perjalanan pulang aku merenungi perjalanan ini. Berbagai godaan dan ujian untuk melirik sepeda lain berusaha aku tepis jauh-jauh. Hidup ini ibarat perjalanan yang telah kulalui barusan, jika tak tahan dengan godaan apakah itu wanita/pria lain kita bisa menghianati pasangan kita, padahal justru pasangan kitalah yang membuat kita kuat. Mereka yang terus menyemangati diri kita dan selalu menjadi tempat bersandar ketika kita sedang terpuruk.


Ya, aku belajar untuk setia dalam perjalanan kali ini.

Sadarkah ketika seorang suami sedang membaca koran di pagi hari kemudian tiba-tiba istrinya menyuguhi segelas kopi kesukaannya? Sadarkah ketika seorang istri, setia ditunggui suaminya ketika ia sedang sakit? Sadarkah bahwa setelah itu ada anak-anak yang lucu yang menemani kebahagiaan keduanya? Lantas mengapa masih ada yang menghianati sebuah pernikahan? Apakah karena pasangan kita tidak secantik dulu? Atau uangnya tidak sebanyak di awal kehidupan pernikahan? Atau memang karena tidak tahan dengan godaan di luar sana? Godaan kepopuleran dan pasangan yang lebih cantik/ganteng secara fisik dan kaya secara materi? Ah biarlah hati yang menjawabnya.

Begitu juga dengan hubungan kehidupan vertikal kita. Allah yang selalu setia dan memberikan yang terbaik kepada hamba-hamba-Nya, namun kenapa sebagian besar orang tidak membalas dengan sebuah kesetiaan yang sama. Kesetiaan yang tauhid dan kecintaan yang tulus hanya kepada-Nya. Oleh karena itu tidak heran jika Allah memberi peringatan dalam bentuk apapun untuk mengingatkan kita kembali kepada-Nya. Sebagai contoh ketika zaman nabi Luth, Allah menggetarkan bumi di bawah kaki kaum Sodom. Getaran itu mendahului suatu gempa bumi yang kuat dan hebat disertai angin yang kencang dan hujan batu sijjil yang menghancurkan dengan serta-merta kota Sodom beserta semua penghuninya. Demikianlah mukjizat dan ayat Allah yang diturunkan untuk menjadi pengajaran dan ibrah bagi hamba-hamba-Nya yang mendatang.

Ya Rabb... ampuni kami. Ampuni segala khilaf yang telah kami lakukan. Terangkanlah jiwa kami yang kabur—yang penuh dosa ini. Terangkanlah hati yang kadang hilang arah ini. Bimbing kami Ya Rabb... maafkan... maafkan kami, sebelum akhir kehidupan ini.


Baru tersadar bahwa setiap tarikan nafas,
adalah semakin berkurangnya usia kita...

Sunyi Pagi—19 Agustus 2009

Duddy Fachrudin

Friday, January 20, 2012

Buku Anti Stres, Anti Galau, Anti Depresi: Belajarlah Pada Siapapun

Alhamdulillah... malam ini senang sekali bisa belajar pada adik-adik di Salman Al Farisi.

Maka pembelajaran hari ini adalah belajarlah pada siapapun di sekitar kita. Belajarlah & terus meningkatkan kualitas diri. Kenapa harus meningkatkan kualitas diri?

"Waktu dikalahkan Aokiji, aku pikir masih banyak orang yang lebih kuat daripada ia. Karena itu, aku juga harus lebih kuat demi melindungi teman-temanku... Bukan hanya menjadi lebih kuat... Tapi karena aku ingin selalu bersama teman-temanku. Karena itulah, aku harus lebih kuat daripada siapa pun. Kalau tidak, aku akan kehilangan mereka."

(Luffy saat bertarung melawan Blueno di Enies Lobby)


[Temukan inspirasi lainnya serta kunci-kunci hidup bahagia & sukses di dalam buku saya yang ke-3 yang berjudul "10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Rahasia": Buku Anti Stres, Anti Galau, Anti Depresi]

--------------------

Dapatkan inspirasi mengenai kehidupan, hidup yang penuh makna, bahagia & sukses, psikologi, dan neuroscience dengan mem-follow akun twitter saya: @duddyfachrudin

Salam Hidup Penuh Makna,

Duddy Fachrudin - Memberi, Berbagi, dan Melayani :)


Thursday, January 19, 2012

Buku Anti Stres, Anti Galau, Anti Depresi: CAHAYA

Selamat Sore Kawan,

Pembelajaran hari ini adalah mengenai perpisahan Vivi dengan Luffy dkk, yang sering membuat saya menangis ketika membacanya kembali... :

"Suara gelombang laut yang bagaikan musik... kadang terasa begitu tenang mengalir lembut bagaikan membungkus segala kesulitan selama ini. Kadang gelombang itu begitu dahsyat. Menertawakan perasaan takut yang muncul karenanya. Dan dibalik badai kegelapan itu, aku melihat sebuah kapal kecil. Kapal yang selalu ada di belakang dan selalu mendorongku sambil berkata, apa kau tidak bisa melihat CAHAYA itu? Kapal kecil misterius yang TAK AKAN PERNAH TERSESAT DALAM KEGELAPAN. Mengarungi lautan seolah menari di atasnya. Ia tak pernah menentang laut, namun haluannya selalu mengarah ke depan walau harus menentang angin. Dan sambil menunjuk dengan jarinya, mereka berkata... Lihat, di situ ada CAHAYA! ...Mungkin sejarah akan menyebutnya sebagai ilusi belaka. Tapi, bagiku itu adalah kenyataan."

[Temukan inspirasi lainnya serta kunci-kunci hidup bahagia & sukses di dalam buku saya yang ke-3 yang berjudul "10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Rahasia": Buku Anti Stres, Anti Galau, Anti Depresi]

--------------------

Dapatkan inspirasi mengenai kehidupan, hidup yang penuh makna, bahagia & sukses, psikologi, dan neuroscience dengan mem-follow akun twitter saya: @duddyfachrudin

Salam Hidup Penuh Makna,

Duddy Fachrudin - Memberi, Berbagi, dan Melayani :)


Tuesday, January 17, 2012

Buku Anti Stres, Anti Galau, Anti Depresi: Makna Hidup

Selamat Sore Kawan,

Pembelajaran hari ini adalah mengenai makna hidup:

"Orang yang punya alasan dibalik hidupnya, maka ia punya energi yang luar biasa besar, karena ia tahu apa yang ia inginkan dan lakukan!"

[Temukan inspirasi serta kunci-kunci hidup bahagia & sukses di dalam buku saya yang ke-3 yang berjudul "10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Rahasia": Buku Anti Stres, Anti Galau, Anti Depresi]

--------------------

Dapatkan inspirasi mengenai kehidupan, hidup yang penuh makna, bahagia & sukses, psikologi, dan neuroscience dengan mem-follow akun twitter saya: @duddyfachrudin

Salam Hidup Penuh Makna,

Duddy Fachrudin - Memberi, Berbagi, dan Melayani :)



Saturday, January 14, 2012

Buku Anti Stres, Anti Galau, Anti Depresi: Tujuan Hidup

Selamat Siang Kawan,

Pembelajaran hari ini adalah memiliki tujuan:

Ada seseorang ingin pergi, ia kemudian menyetop taksi.

“Mau diantar kemana Pak?” kata si Supir taksi.
“Terserah…” kita menjawab asal-asalan.

Akibatnya apa, Kawan? Supir taksi mungkin merespon dengan marah-marah terhadap jawaban kita dan ia mungkin juga akan mengantarkan kita melihat-lihat kota kemudian mengantarkan kita kembali ke rumah atau menurunkan kita di sembarang tempat seperti di depan rumah sakit jiwa!

[Memiliki tujuan adalah salah satu kunci bahagia dan sukses. Saya terangkan hal itu dalam buku saya yang ke-3 yang berjudul "10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Rahasia": Buku Anti Stres, Anti Galau, Anti Depresi]

--------------------

Dapatkan inspirasi mengenai kehidupan, hidup yang penuh makna, bahagia & sukses, psikologi, dan neuroscience dengan mem-follow akun twitter saya: @duddyfachrudin

Salam Hidup Penuh Makna,

Duddy Fachrudin - Memberi, Berbagi, dan Melayani :)

Friday, January 13, 2012

Buku Anti Stres, Anti Galau, Anti Depresi: Tanggung Jawab

Selamat Siang Kawan,

Pembelajaran hari ini adalah mengenai tanggung jawab:

"Kesuksesan atau kegagalan adalah tanggung jawab kita, kitalah yang menentukannya, BUKAN LINGKUNGAN ATAU ORANG LAIN."

[Sebelum masuk pada kunci-kunci bahagia dan sukses, tanggung jawab adalah sebuah sikap yang harus dimiliki. Saya terangkan hal itu dalam buku saya yang ke-3 yang berjudul "10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Rahasia": Buku Anti Stres, Anti Galau, Anti Depresi]

Anda dapat memperoleh bukunya di toko buku di kota Anda :)

--------------------

Dapatkan inspirasi mengenai kehidupan, hidup yang penuh makna, bahagia & sukses, psikologi, dan neuroscience dengan mem-follow akun twitter saya: @duddyfachrudin

Salam Hidup Penuh Makna,

Duddy Fachrudin - Memberi, Berbagi, dan Melayani :)


Thursday, January 12, 2012

Catatan Seorang Mahasiswa Tua II: Keseimbangan

Liburan semester genap saya habiskan dengan bermain Championship Manager. Saya menangani AC Milan selama 20 musim dan berhasil menjuarai berbagai kompetisi domestik, eropa, dan dunia. Milan? Wajar, karena dihuni pemain-pemain top dan dana yang berlimpah. Well, karena bosan saya resign dan create new game dengan melatih Villareal, klub Spanyol yang kalah saing dengan Barcelona, Real Madrid, Valencia, Atletico Madrid, serta Athletic Bilbao. Saya main 10 musim, dan apa yang terjadi? Bagaimana prestasinya?

Seperti yang saya katakan sebelumnya, Barca dan Madrid pastinya mendominasi liga. Villareal hanya berhasil menduduki posisi 3 besar di musim pertamanya, itupun dengan kerja keras karena sempat berada pada zona degradasi. Musim-musim berikutnya hampir sama, selalu posisi 3. Namun seiring waktu berjalan, pundi-pundi keuangan klub meningkat. Saya pun membeli pemain-pemain kelas dunia untuk mengimbangi bahkan mengalahkan dominasi Madrid dan Barcelona.

Gerard Pique, Alexander Pato (ditukar dengan Rossi), Mixalis Pavlis, Luca Modric, Juan Mata (ditukar dengan Fernandez), Nilmar, Edin Dzeko, Kevin Prince Boateng (ditukar dengan Luis Valencia), Lionel Messi, dan Cesc Fabregas pun diboyong. Sementara saya pun mendapatkan Fernando Gago, Wayne Rooney, serta David Villa secara gratis karena tidak memperpanjang kontrak di klubnya masing-masing. Pemain-pemain tersebut menemani para pemain top yang saya datangkan sejak awal musim, yaitu Bojan Krkic, Angel Di Maria, Denilson, Gael Clichy, dan Domenico Criscito. Mereka bergabung dengan skuad utama The Yellow Submarine yang terdiri dari Nihat Kahveci, Giuseppe Rossi, Gonzalo, Marcos Senna, Diego Lopez, dan Joan Capdevilla.

Posisi klub pun merangkak ke posisi 2. Sementara di Eropa berhasil menjuarai UEFA Cup dan Liga Champion. Penantian panjang untuk menjuarai La Liga akhirnya terwujud, yaitu saat Rooney bermain. Bahkan pada saat itu kami berhasil mendapatkan 3 gelar: La Liga, Copa del Rey, dan Liga Champion. Wow! Ditambah Super Cup dan Kejuaraan Dunia Antar Klub di musim berikutnya, Villareal menjadi klub terhebat saat itu.

Memang menjuarai berbagai kompetisi membuat semua bahagia. Namun ternyata ada PR bagi saya yang sangat penting. Yaitu bagaimana saya bisa memainkan semua pemain top yang ada. Tentunya saya tidak bisa memainkan semuanya dan harus ada yang dikorbankan untuk duduk di base. Dan bagi pemain top yang duduk di bangku cadangkan merasa tidak bahagia (unhappy). Inilah masalahnya, Kawan!

Setelah dipikir-pikir… solusinya ternyata cuma satu, yaitu menjualnya.

Oke, karena saya penganut formasi 4-2-3-1, maka sangat mengandalkan serangan sayap dengan satu striker dan pemain tengah yang berfungsi sebagai jangkar. Untuk sayap, saya selalu memainkan Di Maria dan Bojan. Juan Mata yang saya dapatkan dengan menukar Mathias Fernandez plus uang akhirnya saya lepas, karena punya posisi yang sama dengan Di Maria. Untuk striker, pilihan pertama selalu pada Nihat. Namun saat Rooney datang, saya menjualnya. Dan ketika saya mendapatkan David Villa, saya pun menjual Rooney. Edin Dzeko yang tidak mendapat tempat pun akhirnya saya tukar dengan pemain muda Inter, Goran Slavkovski.

Itulah sederet kasus di mana saya harus menentukan pemain yang menjadi starting line-up. Saya tahu bahwa tidak baik menumpuk pemain bintang. Ini menimbulkan ketidakseimbangan, dan pastinya ada pihak yang merasa tidak bahagia. Ketika saya selalu memainkan Di Maria maka Juan Mata yang posisinya sama dianggap tidak penting bagi klub. Bahkan ketika Modric datang, dan saya terus memainkan Di Maria, ia merasa tidak bahagia.

Ketika ada yang masuk, maka ada yang keluar. Inilah keseimbangan. Menangani Villareal memberikan insight yang luar biasa bagi kehidupan yang sesungguhnya. Sekali lagi bahwa saya tidak bisa memainkan semuanya. Harus ada yang dikorbankan. Harus ada yang dilepas atau dijual. Jika tidak, ada pihak yang dirugikan, kecewa, marah, dan tidak bahagia.

Dalam kehidupan nyata, kita kuliah, berorganisasi, sampai berbisnis atau kerja. Semuanya bisa dilakukan sekaligus. Ya, saya ulangi: semuanya bisa dijalankan sekaligus. Namun yang terpenting dari itu semua adalah, apakah hasilnya bagus? Secara akademik bisa mendapatkan IPK > 3? Berorganisasi dengan amanah? Dan menghasilkan uang dengan kerja keras?

Jika organisasi yang kita jalani hanya satu, mungkin bisa amanah. Bagaimana jika dua, tiga, empat, atau lima? Saya tidak yakin. Jika semuanya dilakukan, fisik dan psikis akan tidak seimbang dan berujung pada ketidakfokusan. Ketidakseimbangan pada aktivitas organisasi kita bisa berpengaruh pada kuliah dan kerja kita. Sementara ketidakfokusan hanya menjadikan kita sebagai orang yang rata-rata bukan di atas rata-rata. Semua berantakan, mungkin terjadi.

Kuliah hancur? Orangtua tidak bahagia. Berorganisasi tanpa komitmen? Anggota lain merasa kecewa. Kerja asal-asalan, yang harusnya dikerjakan tapi tidak dikerjakan? Bos marah.

Ada yang masuk, maka ada yang keluar. Itulah keseimbangan, Kawan. Dan itulah yang kita pelajari selama kuliah di Fakultas Psikologi.

 

19Okt'10, Malam-malam sambil makan nasi goreng...

Duddy Fachrudin


Wednesday, January 11, 2012

Buku Anti Stres, Anti Galau, Anti Depresi: Mengambil Hikmah

Selamat Pagi Kawan,

Pembelajaran hari ini adalah tentang mengambil hikmah dari sebuah kegagalan:

"Orang gagal adalah orang yang melakukan suatu kesalahan tetapi tidak mengambil hikmah dari pengalaman tersebut."

[Elbert Hubbard dalam buku saya yang berjudul "10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Rahasia": Buku Anti Stres, Anti Galau, Anti Depresi]

--------------------

Dapatkan inspirasi mengenai kehidupan, hidup yang penuh makna, bahagia & sukses, psikologi, dan neuroscience dengan mem-follow akun twitter saya: @duddyfachrudin

Salam Hidup Penuh Makna,

Duddy Fachrudin - Memberi, Berbagi, dan Melayani :)


Tuesday, January 10, 2012

Buku Anti Stres, Anti Galau, Anti Depresi: Cita-cita

Dari kecil aku bercita-cita jadi tentara. Untuk memperjuangkan cita-citaku, aku menekuni olahraga. Aku aktif di bidang beladiri, silat, karate, kungfu, dan jenis olahraga lain, seperti sepakbola, basket, voli. Di bidang olahraga aku sempat berprestasi. Tapi ternyata, musik lebih menarik-narik. Musik aku rasakan lebih menggelitik.

[Iwan Fals dalam buku "10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Rahasia": Buku Anti Stres, Anti Galau, Anti Depresi]

Monday, December 19, 2011

Cinta & Komitmen

Alkisah 4 tahun yang lalu seorang remaja tak jelas masa depannya melangkah goyah  ke sebuah meja. Nampak di depannya ibu-ibu paruh baya berambut keriting bergigi kuning dan kelihatan pusing menyapa:

“Coba saya lihat dulu berkasnya,” giginya yang kuning memantulkan kemilau cahaya. Suing... Remaja nggak jelas masa depannya dengan cepatnya menghindar dari pantulan cahaya itu. Gayanya seperti di film The Matrix.

“Ini bu...” Remaja itu nyengir (sambil berkata dalam hati, hehe... nggak kena lu).

“Hmm... ya... ya... Hmm... Fakultas Psikologi,” ibu berambut keriting dan bergigi kuning melihat sekilas map yang diserahkan bocah yang barusan nyengir.

“Iya bu,” sang bocah membalas.

“Oke... tapi ini kenapa pilihannya Fakultas Psikologi semua?” si ibu bertanya.

“Oh... nggak ada pilihan lain. Jadi saya isi psikologi semuanya... hehe, ”  lagi-lagi bocah itu nyengir.

“Kalau gitu dicoret aja.”

“Oh... begitu ya?” pilihan 2 pun dicoret.

“Gimana kalau kamu nggak lulus?” si ibu bertanya serius. Akibatnya rambutnya semakin keriting.

“Gimana ya... (garuk-garuk) saya pasti lulus bu, hehe... Kalau nggak lulus, saya jualan gigi ibu aja...”

Nggak usah ketawa. Nggak usah nyengir.

Itu cerita waktu saya daftar PMB Unisba 4 tahun lalu. Ceritanya gitu ya? Ya enggak lah... hehe.

Tapi yang jelas saya cuma milih Fakultas Psikologi. Nggak ada pilihan lain. Hmm... tapi kalo disitu ada pilihan Dian Sastro, saya pasti nyantumin dia. Hehe...

Saya sebenarnya bingung kenapa milih psikologi. Kenapa juga milih psikologi... Padahal ketika kuliah tidur mulu (apalagi kalo dosennya nggak enak ngajarnya). Mata kuliahnya? Waduh... buset apa itu id, ego, superego, anima, animus... bla bla bla...? Serius saya nggak pernah tahu sebelumnya. Tokoh semacam Freud, Skinner, Maslow apalagi. Dan ketika SMA nggak pernah sekalipun nyantumin Psikologi di lembar jawaban try-out SPMB.

Lalu kenapa milih psikologi dan meninggalkan kampus gajah? Suka. Dan sepertinya emang udah disuruh ama Allah masuk Psikologi, hehe.

Dan kini waktu pun berlalu.

Nilai-nilai oke. Semester depan insya Allah lulus (walau ngaret, hehe). Enjoy tanpa beban. Stres... iya juga, tapi dinikmati. Pernah sakit parah, di semester 2, 4, dan 5, tapi masih tetap senyam senyum. Mulai menangani kasus sejak semester 5 (amatiran), dan profesional di semester 6. Ketemu banyak klien rupa-rupa: dari anak-anak nggak mau diem ampe nenek-nenek nggak waras. Nulis buku aneh, dan lain-lain yang sulit disebutkan satu per satu.

Sukses? Hmm... bisa.

Bahagia? Hmm... juga bisa.

Oke sekarang kita beralih pada seorang yang kekar bernama Umar bin Khattab preman pasar. Tidak ada yang takut padanya. Nabi pun harus waspada karena Umar ingin membunuhnya. Namun, Umar luluh dengan lantunan Thaha Fatimah adiknya. Seketika Umar jatuh cinta. Bergegas ia mencari Muhammad. Tidak. Bukan untuk membunuh. Melainkan mengucapkan sebuah janji.

Dan Umar pun menjadi salah satu awwalul muslimun terpenting. Surga, sudah jelas menjadi tempat abadi baginya.

Sukseskah Umar? Hmm... ya.

Bahagiakah Umar? Hmm... tentu.  

Cerita saya jangan disamakan dengan Umar. Tapi dua-duanya punya kesamaan. Apakah itu? Silahkan pikir... Kalau mau gampang ya lihat judulnya aja: Cinta dan Komitmen.

Nah... Cinta dan Komitmen. Lantas mana dulu yang hadir. Di mana-mana juga Cinta dulu, right? Mana ada orang yang mau menikahi orang yang tidak dicintainya (walaupun ada, silahkan baca “Catatan Hati Seorang Istri”-nya Asma Nadia). Dari dua cerita di atas pun Cinta dulu yang hadir. Lantas kemudian Komitmen. Saya hanya memilih psikologi. Itulah komitmen saya, sehingga saya sekarang merasa sukses dan bahagia kuliah di Fakultas Psikologi. Sedangkan Umar mengucapkan dua kalimat syahadat. Itulah janji setia Umar. Ia pun komit membela Islam. Pantaslah Umar diganjar surga.

Cinta dulu, lalu Komitmen. Dan jatuh cinta Umar nggak pake lama. Setelah mendengar Thaha dari Fatimah langsung komitmen. Nggak pake lama. Sekali lagi nggak pake lama. Setelah mengucapkan komitmen Umar belajar, pembinaan, bimbingan sama Nabi bareng sahabat-sahabat lainnya.

Saya yang bodoh pun begitu. Setelah yakin dengan pilihan psikologi satu-satunya serta komit untuk menjalaninya, maka memulai pembinaan dengan dosen. Diskusi, bertanya sana sini. Ikut seminar dan pelatihan hipnoterapi.

Cinta dulu, lalu Komitmen... dan setelah itu cintanya dilanjutkan. Cinta di awal nggak pake lama. Hehe... jatuh cinta sebentar – komitmen – pembinaan dan kemudian jatuh cinta sepuasnya. Ternyata ini rumusnya. Rumus dari para sahabat nabi. Jadi perlu diikuti.

Tentu saja berlaku dalam membangun tim bisnis, meng-coach orang, sampai nikah.

 

Iseng-iseng Nulis, jam 1 pagi, 12 Sept 2011

Duddy Fachrudin

NB: ini tulisan nggak serius. Kalo mau serius silahkan baca kitab “10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Rahasia” hehe..

Sunday, December 11, 2011

Cinta, Impian, dan Perjalanan (Special Edition)

Aku percaya, tidak ada kebetulan. Berliku-likunya kisah kita, ada yang menjadi saudara. Entahlah, apakah kamu masih percaya. Namun, perbolehkan aku dengan keyakinanku. Bahwa aku masih percaya, semua sudah direncanakan-Nya. Dia perencana terbaik, manusialah yang menentukan apa yang dia pilih dalam kehidupannya kemudian.

(Surat terakhir Ajuj kepada Kinanthi, Galaksi Kinanthi, hlm 373)

 

Aku baca bingkaian kata itu sebelum 23.12, selasa itu. Mataku berdanau. Danau yang paling besar ketika aku mengikuti Galaksi Kinanthi, novel yang aku miliki sejak 2 tahun lalu namun baru aku baca sejak malam sabtu, 18 maret lalu.

 

Sabtu. Hari itu penat sekali. Selepas bimbingan aku menuju Aceh untuk melanjutkan pelatihan UTHB 65 Bandung. Namun waktu break pertama telah berlalu 15 menit yang lalu. Rasa tak enak menghampiri membuatku urung masuk. Jadilah aku menuju Gramedia menghabiskan waktu hingga break kedua (duhur). Sebelum meluncur, aku dan abe sempat bersitegang dengan tukang parkir di tempat pelatihan. Si tukang parkir minta bayaran! (baru kali ini aku dan abe ditagih parkir sepeda...)

 

Aku melihat-lihat dan membaca karangan-karangan. Dan tiba-tiba pandanganku agak kabur. Bukan karena minusku bertambah, namun mataku berlinang. Buku yang ada ditanganku saat itu berjudul It’s Miracle & Unusual Love Stories. Keduanya diangkat dari kisah nyata. Aku hanya menyimak sebentar, namun telah membuat tubuhku bergetar.

 

Mungkin gara-gara kejadian itu aku lebih memilih pulang daripada melanjutkan pelatihan. Kakiku juga terasa pegal. Mereka berteriak-teriak meminta istirahat. Kebetulan, butiran-butiran bening dari langit telah usai mengguyur bumi.  Aku mengayuh abe. Pelan. Banyak yang aku pikirkan.

 

 

Cinta itu...

 

Mencintai seseorang yang layak dicintai namun tidak pernah engkau miliki adalah neraka dunia.

(Kinanthi berbicara kepada dirinya sendiri, Galaksi Kinanthi, hlm 378)

 

Malam sebelum sabtu seorang teman menghubungiku untuk sebuah urusan. Ya, tentang cinta. Mungkin sekarang aku harus menambah profesi selain sebagai seorang terapis dan trainer, konsultan cinta, alamak. Namun, yang penting adalah esensinya, yaitu membantu orang lain. Jadi aku pun memberi saran sebisaku. Dan tentu aku banyak mengambil hikmah dari bingkai kisah temanku, serta memperkaya khasanah cinta.

 

Aku memikirkan diriku selepas sesi itu. kemudian berkata dalam hati, “Cinta memang patut diperjuangkan, dan cinta memang harus dimiliki... dengan sebuah proses bernama kesabaran.” Kata-kata “cinta harus dimiliki” menentang bagian diriku yang memiliki konsep “mencintai bukan berarti harus memiliki”. Aku terdiam lama, menelusuri perasaanku sendiri, mengingat sebuah komitmen yang telah aku janjikan kepada diriku sendiri. Lalu aku membuka Galaksi Kinanthi.

 

 

Law of Resonance

 

... tidak ada perempuan yang lebih kuinginkan dibanding dirimu. Perempuan yang kuharap menemaniku jika kuberuntung memasuki surga yang dibangun-Nya. Aku tidak butuh 1.000 bidadari.

(Surat terakhir Ajuj kepada Kinanthi, Galaksi Kinanthi, hlm 373)

 

Matahari menggeliut tidak terlalu terik. Aku menyetop bis Bandung-Cirebon. Aku mempercepat kepulanganku ke Cirebon yang awalnya senin menjadi minggu. Sejak satu bulan yang lalu aku ingin menjenguk atau sekedar menatap wajah kedua orangtuaku. Selain itu, aku harus mengurus NPWP agar royalti dari karya-karyaku tidak dipotong terlalu banyak. Setengah perjalanan awal aku mengikuti Galaksi Kinanthi. Sesekali aku terdiam. Melihat ke jendela. Mataku kadang berdanau kecil. Sudah sekitar 2 tahun aku tak membaca novel. Dan sekarang perasaanku teraduk-aduk lewat kisah Ajuj dan Kinanthi. Cinta, pengorbanan, perlindungan, pencarian, penantian, komitmen, serta ketidakpastian. Aku tenggelam dalam keharuan.

 

Hari mulai tenggelam. Ibuku menanyakan posisiku. Karena seperti biasa, bapakku akan menjemputku jika aku pulang. Tepat jam 18 aku turun. Hp-ku bergetar, mungkin dari bapakku. Tapi dugaanku meleset... tenyata temanku. Dan seketika itu pula bapakku datang.

 

Rumah kami rumah sederhana. Kerikil-kerikil, pohon mangga, dan beberapa tanaman menghiasi halamannya. Disampingnya ada tempat bersalin. Ya, karena ibuku seorang bidan, salah satu pekerjaan mulia di muka bumi ini. Sesampainya di rumah, tiba-tiba aku disambut ibuku dengan menyinggung-nyinggung nikah. Walah... ada apa ini? Kapan? Aku hanya terdiam membisu. Bukan masalah kesiapannya, namun aku sendiri sedang ikhtiar dan tentunya memastikan seorang perempuan yang kelak mendongeng dan melantunkan ayat-ayat Allah kepada anak-anak. Seorang perempuan yang tidak ada bandingannya dengan 1.000 bidadari. Memastikan ketidakpastian, tapi dengan proses bernama kesabaran. Serial KCB yang aku tonton sore itu menguatkan keyakinanku. Tidak terburu-buru, namun juga tidak menunda-nunda. Dan hanya dengan kesabaran aku bisa melakukannya.

 

 

Penantian

 

“Nanti kalau kita ndak bersama lagi, terus kamu mau cari aku, kamu lihat aja ke langit sana, Thi. Cari Gubuk Penceng. Di bawahnya ada galaksi yang tidak terlihat. Namanya Galaksi Cinta. Aku ada di situ.”

(Ajuj kepada Kinanthi saat masih kecil, Galaksi Kinanthi, hlm 50)

 

Selasa malam. Ditemani lilin kecil aku masih menyimak Galaksi Kinanthi. Aku terus penasaran dengan halaman-halaman berikutnya. Apalagi cerita sedang menuju klimaksnya. Bagaimana akhir penantian, pencarian hampir selama 20 tahun antara Ajuj dan Kinanthi, kedua orang yang terpisah 9.000 mil?

 

“Hampir dua puluh tahun ini, jika pun tidak ada wasiat dari Mbah Gogoh, tahukah kamu Thi? Aku tetap akan mencarimu. Dan kamu tidak pernah tahu itu. Selama hampir dua puluh tahun ini kamu mengirim lebih dari 100 surat kepadaku dan aku tidak pernah tahu. Kita sama-sama ingin tahu, tapi tak benar-benar tahu. Ketika dulu, sewaktu kita masih kanak-kanak, apakah kau pikir aku menemanimu karena rasa kasihan akan nasibmu? Jika itu masih ada dalam benakmu, usirlah. Sebab, ada tidaknya kamu disampingku, tetap saja kamu menemaniku.”

 

Surat terakhir Ajuj kepada Kinanthi. Adakah dalam realita hidup yang sebenarnya kisah seperti ini? Aku bertanya dalam hati. Harapan akan bertemu, saling mencari hampir selama 20 tahun, yakin seyakin-yakinnya bahwa orang itu adalah pasangan hidupnya?  

 

 

Kesabaran

 

Menghitung hari detik demi detik

Menunggu itu kan menjemukkan

Tapi kusabar menanti jawabmu

Jawab cintamu

(Menghitung Hari, Anda)

 

23.12. Aku menutup kisah Ajuj dan Kinanthi diiringi “Menghitung Hari”-nya Anda. Ini bukan hanya novel cinta, melainkan pelajaran tentang kehidupan. Tokoh-tokohnya aku kenal betul, karena diambil dari karakter nyata. Terima kasih Mas Tasaro... it’s amazing love story.

 

Jika ada satu kata mengenai cerita Ajuj dan Kinanthi adalah kesabaran. Dan entah tema itu memang sedang menemani hari-hariku. Apakah kebetulan? Entahlah... tapi yang jelas aku sepakat dengan Ajuj, “Aku percaya, tidak ada kebetulan. Berliku-likunya kisah kita, ada yang menjadi saudara. Entahlah, apakah kamu masih percaya. Namun, perbolehkan aku dengan keyakinanku. Bahwa aku masih percaya, semua sudah direncanakan-Nya. Dia perencana terbaik, manusialah yang menentukan apa yang dia pilih dalam kehidupannya kemudian.”

 

Ada yang aneh? Ya, biasannya kita mengatakan, “Kita yang berencana, namun Allah yang menentukan.” Tapi aku yakin, bahwa apa yang kita lihat, dengar, rasakan, serta alami sekarang adalah bagian dari rencana-Nya, skenario-Nya.

 

“Menghitung Hari” berlalu, berganti “Sebelum Cahaya”:

 

Ingatkah engkau kepada

Embun pagi yang bersahaja

Yang menemanimu

Sebelum cahaya

 

Ingatkah engkau kepada

Angin yang berhembus mesra

Yang kan membelaimu

Cinta...

(Sebelum Cahaya, Letto) 

 

 

(Rabu, 23 Maret 2011. 14.25... di atas bis menuju Bandung)

 

Duddy Fachrudin