Wednesday, January 26, 2011

Kebebasan

Mereka-mereka baru selesai sidang
Kemudian bahagia saling pandang
Tertawa kesenangan
Ah aku baru semester depan

Semester depan cepatlah datang
Agar sejenak mereguk kebebasan
Kebebasan dan petualangan

Aku ingin petualangan
Bersamamu putri khayangan
Bersamamu cahaya impian

Aku ingin kamu
Aku ingin bersamamu
 

Wednesday, December 22, 2010

Menanti 2011

November-Desember 2010
Dua bulan terbaik yang pernah hadir
Alhamdulillah

Proses, keberanian, keikhlasan, kepasrahan bercampur menjadi satu. Keikhlasan menjadi hal yang benar-benar saya rasakan saat-saat akhir tahun 2011. Ikhlas... benar-benar diuji keikhlasan seluruh tubuh dan pikiran, serta jiwa saya.

Ini semua tentang masa depan. Yaitu 2011. Ya, satu tahun ke depan. Tahun yang saya tunggu-tunggu. Tahun di mana periode baru setelah 2004 dan 2007. Tahun 2004 ketika saya masuk ITB, 2007 ketika saya mengambil keputusan keluar dari ITB dan masuk Psikologi, dan 2011 di mana saya (insya Allah) wisuda dari Psikologi.

2011... periode baru dalam kehidupan saya, di mana saya harus sudah matang dari berbagai aspek, di mana saya harus sudah siap dengan kehidupan baru.

2011... tahun di mana saya sudah harus lepas secara finansial dari orang tua. Tahun di mana saya memperjuangkan Alpha Habits Institute dan Keluarga Besar Rumah Impian Indonesia.

2011... tahun di mana (insya Allah) buku kedua saya terbit (Tiga Serangkai). Tahun di mana saya harus lebih produktif lagi dalam menulis. Ya, minimal 2 buku lagi harus saya tulis. Kemungkinan 1 fiksi dan 1 non-fiksi. Dan terbit. dan best-seller.

2011... tahun di mana punya rencana besar. Rencana akan event akbar, teragung dalam hidup saya. Kuatkan tekad, mantapkan hati... untuk hal ini, mitsaqan ghaliza, ya Rabb.

Oleh karena itu saya hanya ikhlas. Saya hanya pasrah. Khususnya yang terakhir.

Saya ikhlas... saya pasrah.


Bumi-Nya, 22-12-10 

Friday, February 26, 2010

Bang Gratis Ya...

Saya baru saja menemukan RAHASIA orang-orang sukses! Apa itu rahasianya? Silahkan baca lebih lanjut…

Ini berawal dari beberapa jam, hari, atau minggu yang lalu di mana saya mendapatkan pengalaman setelah mengikuti Basic & Advance Clinical Hypnotherapy yang diselenggarakan IACH. Banyak teman-teman saya yang mengetahuinya, sehingga mereka penasaran dengan ilmu yang saya dapatkan di kedua seminar tersebut. Beberapa dari mereka ada yang mengatakan, “Bang, hipnotis aku dong… supaya semangat belajarnya.” (maksudnya hipnosis bukan hipnotis). Terus ada juga yang berkata, “Bang Dud, ajarin dong gimana caranya menghipnosis orang!”

Untuk yang pertama saya memang memberikannya (apalagi saya butuh latihan), dan alhamdulillah teman-teman saya yang dihipnosis atau lebih tepatnya dihipnoterapi untuk human achievement dapat merasakan pengaruhnya pada perkuliahan mereka. Belasan teman saya dihipnoterapi, di manapun mereka mau (karena saya belum punya tempat, hehehe…) dalam selang 2 mingguan setelah mengikuti Advance. Ada beberapa dari mereka yang bilang, “Bang, bayar nggak?”. “Nggak usah, masih gratis asal yang serius dan diniatkan untuk berubah,” kata saya.

Sementara yang kedua, saya lebih merekomendasikan untuk mengikuti trainingnya yang diselenggarakan oleh provider-provider training, karena saya pun belum berhak mengajarkannya, walaupun saya bisa. “Mahal Bang, jutaan bayarnya… kalo baca buku aja saya nggak ngerti,” kata teman saya. “Oke, saya ajarin… tapi mau bayar berapa?” Tanya saya. “Ya udah bang nanti aja lagi, hehe…” 

Kemudian, sekarang setelah saya buka klinik, banyak teman-teman yang ingin diterapi seperti merampingkan badan, untuk perkuliahan (supaya semangat), fobia, percaya diri dalam presentasi, dan sebagainya. Dan semuanya berkata, “Kang bayar nggak… gratis aja ya, atau diskon deh… harga teman.” Waduh, kata saya dalam hati. Padahal biaya untuk terapinya saja sangat murah, tapi kok masih ada yang “Kang, gratis ya…”

Mengenai fenomena ini, saya jadi teringat message yang ditulis pakar marketing, Ippho Santosa. Berikut tulisannya yang berjudul “Harga Suatu Ilmu”:

Ketika dulu saya belajar intens kepada mentor-mentor saya, tidak pernah sekalipun saya mengatakan “Pak, boleh saya minta buku Bapak? Gratis? Boleh saya minta tiket seminar Bapak? Gratis?” Tidak pernah sekalipun saya begitu.

Kenapa? Pertama, saya menghormati diri saya sendiri. Saya entrepreneur. Katakanlah, saya tidak mampu. Tetap saja, saya tidak mau minta-minta. Karena itu sama saja saya merendahkan diri layaknya pengemis. Kedua, saya menghormati dia dan ilmunya. Segala sesuatu itu ada harganya. Coba hitung, berapa waktu dan sumber-sumber yang telah ia habiskan untuk menghadirkan buku dan seminar itu.

Ketiga, saya tahu persis buku itu bukan miliknya. Buku itu adalah milik penerbit dan toko buku sepenuhnya, di mana penulis hanya dapat royalti biasanya maksimal 10%. Itu pun dipotong pajak. Bahkan, kalau penulis ingin mendapatkan buku-bukunya, ia pun harus membeli dari penerbit dan toko buku. Mana ada gratisan! Begitu pula seminar, yang hampir sepenuhnya adalah hak EO.

Makanya setiap kali ada yang minta-minta, dalam hati saya langsung bergumam, “Memangnya Anda siapa? Saudara bukan, sepupu pun bukan! Mending saya ngasih pengemis beneran! Jelas!” Hehehe!

Kebetulan, training saya telah diikuti puluhan ribu orang se-Indonesia dan Singapura. Buku saya pun telah terjual ratusan ribu eksemplar. Dari sini saya menemukan sebuah pola. Mereka yang membayar, memperoleh dampak positif yang jauh lebih besar, ketimbang mereka yang tidak membayar. Kenapa? Karena mereka yang membayar itu menghormati diri, menghormati ilmu, dan menghormati mentor. Tidak percaya? Silakan tanya mentor atau trainer manapun.

Kalau suatu saat kita DIBERI alias digratisin, yah tidak masalah. (Saya pun pernah diberi tiket seminar oleh Pak Hermawan Kartajaya dan buku oleh Pak Andrie Wongso.) Namun pastikan kita tidak berperangai layaknya pengemis, suka minta-minta. Lazimnya, mereka yang suka minta-minta malah tidak mendapatkan apapun, kecuali mendapatkan pandangan remeh oleh orang lain.

So, mari kita hormati diri kita masing-masing. Sip?

Saya sangat sepakat dengan Mas Ippho. Dan semoga Anda dan saya (juga, hehe… maklum masih ada sindrom “gratisan”) bisa seperti yang dikatakan Mas Ippho. Jadi apa RAHASIA orang sukses yang siap berubah untuk kehidupan yang lebih baik baginya? Ya, Anda sudah tahu jawabannya!


Salam Impian,

Duddy Fachrudin CHt—Empowerment & Human Achievement Specialist Hypnotherapist


Monday, May 25, 2009

Terima Kasih Maldini!


Terima Kasih Maldini!

[Paolo Maldini memutuskan gantung sepatu setelah pertandingan Milan-Roma, 24 Mei 2009. Kapten Milan tersebut sudah mengabdi hampir 25 tahun bersama Rossoneri.]

Tuesday, May 12, 2009

Jodoh

Maria  : Kamu percaya jodoh Fahri?

Fahri   : Ya... Setiap orang...

Maria  : Punya jodohnya masing-masing. Seperti sungai Nil dan Mesir... Jika sungai Nil tidak ada, maka Mesir pun tidak ada.

 

Maria tiada meninggalkan Fahri dan Aisyah setelah fisiknya terus melemah, antibodi tubuhnya tak dapat lagi menahan penyakit yang dideritanya. Saat itulah Fahri dan Aisyah hidup (kembali) berdua, karena sebelumnya Maria hadir sesaat bersama mereka. Dan Epilog sungai Nil dan Mesir menutup kisah cinta yang rumit antara Fahri dan empat orang wanita dalam Ayat-ayat Cinta yang fenomenal, baik Novel maupun audio visualnya di layar lebar.

Jodoh. Satu kata yang membuat orang yang masih melajang namun sudah berkeinginan untuk menikah selalu bertanya pada dirinya: Kapan aku menikah? Atau benarkah dia jodohku yang tepat? Ada sebuah kekhawatiran yang melanda aspek psikologis seseorang ketia ia berada pada situasi tersebut. Situasi dimana ia akan berhadapan dengan dunia baru bersama pasangan hidupnya, yaitu membina hubungan berlandaskan sebuah ikatan yang sakral—mitsaqan ghaliza.

Setiap orang memiliki jodohnya masing-masing. Bukankah Allah sudah menyiapkannya kepada kita, bahkan kepada orang yang paling ”merasa” jelek sekalipun.

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga). (QS. An Nuur: 26)

Pengertian jelek biasanya terbatas pada area fisik, sehingga jika ia memiliki hati yang bersih dan keimanan yang mantap, insya Allah janji-Nya akan menurunkan bidadari yang terbaik untuk orang tersebut. Dan jika ternyata pasangan kita tidak sesuai dengan apa yang Allah janjikan seperti pada kisah istri Fir’aun, pada dasarnya Allah sedang menguji keimanan dan kesabaranya.

Berbicara jodoh sebenarnya bukan hanya pada persoalan laki-laki dan wanita saja, namun merambah ke berbagai ruang lingkup, seperti pekerjaan, pendidikan, dan sebagainya. Kita bisa melihat orang-orang yang sangat mencintai pekerjaannya, misalnya seorang Choky Sitohang yang berjodoh dengan pekerjannya menjadi presenter atau MC. Ia bahkan mengatakan, ”Saya tidak hidup dari pekerjaan ini, tapi saya membuat hidup pekerjaan ini.” Begitu enjoy dan asiknya Choky bekerja sebagai presenter karena ia memang mencintai pekerjaannya itu sehingga pekerjaannya ia juga semakin mencintainya.

Dalam area pendidikan, kita bisa melihat seorang yang sangat sederhana, namun ketika kita berdiskusi dengannya kita akan terpana mendengar bahasa ilmu yang keluar dari setiap kata-katanya. Ia adalah Tauhid Nur Azhar, seorang dosen, dokter, praktisi dan sahabat yang baik bagi setiap orang yang mengenalnya. Science sebagai ilmu alam sangat melekat pada sosok Pa Tauhid, terutama hal-hal yang berkaitan dengan fisiologi manusia. Oleh karena itu jangan heran, karya-karya beliau tidak terlepas dari otak, sistem saraf, dan kawan-kawannya. Bahkan Pa Tauhid menguraikan kejadian-kejadian di lingkuangan sekitar manusia berdasarkan proses kerja otak tersebut.

Jadi apa rahasia Choky dan Pa Tauhid bisa mendapatkan ”jodoh”-nya masing-masing. Satu persamaan yang bisa ditarik dari kedua contoh tersebut adalah kata cinta. Ya, cinta yang membuat orang semakin mencintai bidangnya masing-masing. Karena mencintai pekerjaan atau pendidikan yang sekarang kita jalani, hidup semakin lebih indah, lebih nikmat dan bermakna. Coba saja kita bayangkan andaikan tak ada Choky di acara Mario Teguh Golden Ways (MTGW), maka terasa agak kurang, karena selain ia bisa membawakan acara (sebagai presenter) dengan baik, juga bisa memotivasi audience dan pemirsa yang ada di rumah. Bayangkan andaikan dosen Biopsikologi atau Psikologi Faal bukan Pa Tauhid, maka saya dan teman-teman di Psikologi Unisba tak akan mengerti kenapa ada orang yang bisa fobia kucing. Itulah mereka yang bisa membuat pekerjaan menjadi lebih hidup karena cinta, karena telah memiliki jodoh yang tepat di bidangnya masing-masing.     

 

Rasa syukur atas ”jodoh”-ku yang telah hadir...

Bandung, 9 Mei 2009

Duddy Fachrudin

Wednesday, May 6, 2009

I'm Back!

"Pergi ketika semuanya mencintai Anda adalah hal sulit dan semua orang di ruang ganti ingin dia tetap di sini. Saya pikir dia harus ada di sini karena kehilangannya akan jadi kerugian besar." (Filippo Inzaghi berkomentar terhadap isu kepindahan Ancelotti)

Ya, saya kembali untuk Pakem 2009!


Friday, May 1, 2009

The PROMISE

The PROMISE



I'll LOVE U till the end of the time...