Sunday, December 4, 2011
Cinta, Impian, dan Perjalanan
Bukankah ini yang kau inginkan? Bukankah ini yang kau impikan?
Berbulan-bulan dirimu menari di atas duri yang tajam. Kini sudah saatnya kau melenggok mesra di atas permadani.
Beriuhkan senyum dan tepuk tangan orang-orang. Dan pastikan suara kelam itu hilang.
Beberapa hari lagi malaikatku. Beberapa hari lagi...
Karena itu bantu aku terbang dengan sayapmu. Sembari meneduhkan diri di istana awan.
Beberapa hari lagi impianku. Beberapa hari lagi...
Karena itu tunggulah aku. Aku baru bersiap dengan ransel dan sepatuku.
(Menanti Awal Pendakian, Suatu hari di 2007)
Kereta
Kamis siang itu aku bersama temanku menuju stasiun. Kami menyapa wanita gerbong, lalu kemudian duduk di 10 A dan 10 B. Argo-Parahyangan mulai bersiul... lambat laun rodanya menari di atas rel. Kereta berangkat dengan tujuan Gambir, Jakarta. Mengantar kami mengikuti sebuah pelatihan. Jakarta... Aku berucap do’a. Semoga perjalanan baik-baik saja.
Kalau ada yang mengatakan aku bahagia saat itu adalah sebuah kebohongan besar. Bahkan bagian diriku yang mencoba menghiburku tak kuasa pada bagian diriku yang merenung sepanjang perjalanan. Dan aku memilih yang kedua dengan menghadapkan wajahku ke jendela; melihat sawah, jurang, realita, serta anak-anak yang bermain bola. Mereka asik bermain. Bebas. Bahagia. Tertawa. Seperti saat aku kecil yang menyepak kulit bundar setelah ashar sampai maghrib. Tapi kini aku bukan mereka atau aku kecil. Aku kini adalah aku yang ada di kereta dan termenung. Itu saja.
Aku masih terlelap dalam renungan. Mengabaikan petugas yang menawarkan nasi goreng dan minuman. Dalam renungan terngiang-ngiang sebuah lirik yang sering aku dengar dalam dua minggu ini:
Love is so funny when you get hurt and you're starting to laugh
just standing alone now figuring why everything was going so fast
and all you've wanted was someone and love will take care for the rest
like I can do...like I want to...for so long...
Saat itulah tiba-tiba terlintas untuk melakukan solo avonturir. Petualangan sendiri bersama raku--ransel kuningku atau Nordwand 30 liter-ku. Rencana awal tentu saja ke Timur. Aku bisa ke Jogja, Semarang, Solo, sampai Surabaya. Aku bisa melakukannya semester ini, karena aku hanya mengerjakan skripsi. Petualangan seminggu! Atau bahkan lebih... menjauh dari Bandung yang nyaman dan melepas kepenatan.
Aku juga memikirkan untuk meninggalkan Bandung seusai kuliah. Aku butuh kehidupan yang lebih keras lagi. Aku sudah mempersiapkan rencana dan komitmen untuk bergabung dengan salah satu lembaga training dan konsultan terbesar di negeri ini. Tentunya aku akan banyak belajar. Ya!
Aku terjaga dari lamunan saat Argo-Parahyangan menyapa Cikampek. Saat itu pukul 16.45-an. Kemudian berdikusi ringan dengan temanku; seputar buku yang ia baca dan juga rencana petualanganku. Tak lama kemudian gerbong-gerbong menyentuh Bekasi. Dan pukul 18.15 tepat, Jatinegara menampakkan wajahnya yang disinari senja sore. Kami turun sembari mengucap syukur. Dan angin Jatinegara menyambutku dengan membisikkan kata-kata: kamu akan bahagia, percayalah.
Jakarta
Kotak-kotak teka-teki
Masih kosong tak berisi
Berulang kali, aku menyeru
Yang datang terus debu
O, cinta yang dilanda kemarau
Adalah luka dalam mimpi kemilau
: sempurnalah kesunyianku!
(Toto ST. Radik)
Sepertinya aku butuh sepatu lapangan. Supaya nyaman saat bertualang. Itulah yang aku pikirkan saat berjalan menuju sebuah kawasan di Jakarta Timur. Selain temanku, kami bertemu seorang kawan. Ia kawan temanku yang juga ikut pelatihan. Jadilah kami bertiga bertualang, layaknya mujahid perang.
Sesampainya di daerah sekitar Pisangan, aku langsung istirahat. Sebelumnya sholat, makan, memandang malam dan kolong jembatan, serta menyapa dan menjawab seorang teman via short message service. Aku pun berusaha menulis atau membaca karangan, namun temanku sudah terlelap. Jadilah aku ikut berbaring di sebuah lantai di atas warung internet. Lampu dimatikan. Aku termenung perlahan tentang cinta tanpa syarat. Cinta tanpa syarat... lalu aku terlelap panjang.
Fajar pagi mulai menyapa langkah kaki kami bertiga. Aku perlahan mulai tersenyum menampakkan wajah bahagia. Apalagi ini Jum’at, hari tersuci dalam Islam. Maka aku menyambutnya dengan cinta. Meskipun semua orang tahu sendiri, Jakarta pagi; siap-siaplah dengan ledakan mobilisasi orang, kemacetan, serta polusi.
Terminal busway sesak penuh orang. Seorang perempuan berkata, “Permisi... permisi... ,” yang lainnya mendorong-dorong. Namun ada juga yang santai sambil mendengarkan sesuatu di earphone-nya. Inilah Jakarta pagi. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka melangkah cepat mengejar waktu demi menjemput materi. Namun sayang, kesannya sendiri-sendiri, tanpa sapa, tanpa empati.
Kami berhenti di masjid Agung. Sebuah kesalahan, karena harusnya turun di terminal sebelumnya. Jadilah kami jalan ke senayan. Sesampainya di senayan, kami masih harus mencari tempat pelatihan. Di manakah gerangan? Tubuhku diusap debu jalanan serta knalpot jalanan. Menyatu dengan keringat yang bercucuran. Tak lama setelah tanya sini tanya situ, kami, tiga sekawan sampai di tempat tujuan.
Pelatihan
Sebentuk pelangi yang menemani
Dialah perempuan bidadari
(sebuah tulisan dalam “Perempuan Bidadari”)
Aku salah satu dari 900-an peserta dalam pelatihan. Kami semua masuk dengan berlari, layaknya pemain football america ketika masuk lapangan. Iringan musik menemani senam pagi. Membahana luar biasa layaknya orkestra. Sang pelatih muncul. Ia lebih pendek dariku, namun sangat berenergi. Aku terkesima takjub dengan penyampaiannya. Keren. Inilah pelatihan terbesar yang pernah aku ikuti.
Saat sesi latihan aku bertemu seorang guru dari Bandung. Pertama kali yang ia katakan adalah, “Masih lajang?” Haha... aku mengangguk. Ketika aku mengatakan aku dari Psikologi Unisba, ia berucap tentang seorang dosen. Aku kembali mengangguk, mengenalnya. Ia adalah salah satu dosen yang aku kagumi, karena pembawaannya lincah. Tiga kali aku dibimbing oleh dosen itu. Terakhir saat semester ganjil yang lalu. Dan aku diberi A.
Saat berjalan hendak sholat Jum’at aku bertemu lagi dengan guru itu. Tiba-tiba aku melihat sebuah tulisan pada jaket yang dikenakannya. Sebuah identitas yang menunjukkan nama sekolah tempat ia mengabdi. “Bapak berarti mengajar... ?” aku langsung menanyakannya. Dan ia mengangguk. Pantas saja ia menanyakan kepadaku tentang sang dosen, karena kedua anak sang dosen itu diajar olehnya. Aku mengenal salah satunya. Pertama kali aku mengenalnya saat ia bertanya Statistika. Ah... tiba-tiba aku jadi bersemangat, melupakan lamunanku di kereta kemarin. Kebetulan? Aku tak tahu... karena aku juga tak ingin membahas teori itu lagi. Tapi yang jelas, terik matahari menjadi saksi kebahagiaanku saat itu.
Kamu akan bahagia, percayalah... Bisikan angin Jatinegara kembali mengelus kedua telingaku.
...to be continued
Istirahat setelah bertualang... Senin, 21 Februari 2011
Duddy Fachrudin
Gigi-gigi Maryam dan Zahra
Meskipun jam menunjuk angka 11, siang ini langit tak begitu cerah, bahkan agak hitam. Namun begitu tak menyurutkan Maryam dan Zahra untuk memeriksakan giginya di balai desa Sekepicung Dago Atas. Kakak adik yang hanya berbeda 10 menit kelahiran itu begitu antusias mendengar di desanya akan ada pemeriksaan dan pengobatan gratis.
“Maryam... Zahra... Ummi dapat kabar dari Pak RT kalau besok ada pengobatan gratis di balai desa.” Sambil menyiapkan makan siang, Ummi Fatimah mengabarkan informasi yang baru saja didapatnya dari Pak RT pagi tadi.
“Oyah Mi? Zahra mau dong dipelikca... hmm... emang bica pelikca apa aja Mi?” Zahra yang usianya udah hampir 7 tahun, namun masih pura-pura cadel ini menanggapi. Ummi hanya geleng-geleng saja mendengar tingkah Zahra. Padahal sebenarnya Zahra sudah bisa mengucapkan R dan S sejak 2 tahun lalu. Namun, demi menarik perhatian Umminya Zahra suka pura-pura cadel. Itulah Zahra, berbeda dengan Maryam yang 10 menit lebih tua darinya. Ia bicara seadanya, tidak dibuat-buat, punya kemampuan analogi yang bagus dan peka terhadap situasi yang ada di sekelilingnya. Misalnya saja, ketika ia dan Umminya belanja ke pasar, tanpa diminta Ummi, Maryam langsung membawakan barang belanjaan Umminya.
Maryam yang kebetulan membantu Ummi memandang adiknya dan kemudian ke Umminya, “Ummi, aku dan Zahra kan bentar lagi sekolah, tapi Zahra masih pura-pura cadel tuh...” Yang diomongin langsung ngebales, “Yee bialin Kak Maryam.”
“Ya sudah jangan ribut. Bentar lagi kita makan siang. Zahra, nanti kalo sudah masuk sekolah ngomongnya biasa aja ya. Janji ama Ummi oke..,” Ummi menjulurkan kelingking tangan kanannya kepada Zahra. “Janji, Mi,” Zahra membalas dengan kelingking tangan kanannya. “Janji wanita sholehah!” Ummi dan Zahra saling berjanji.
*****
Siang itu. “Kak, Zahra mau pelikca gigi aja. Soalnya Ummi kemalin bilang ada doktel giginya juga di balai desa,” Zahra menyiapkan sandalnya. “Iya boleh. Nanti kakak juga mau periksa gigi sama mau ikut numpang ditimbang,” Maryam yang dari tadi sudah siap menunggu Zahra.
Maka, kakak beradik itu kemudian bilang ke Umminya untuk periksa gigi. “Ummi g ikut aja sekalian?” Wajah polos Zahra terlihat memohon pada Umminya. “Ummi jaga rumah aja ya. Nanti kalau sempat menyusul. Ummi sedang menyelesaikan cerpen buat dikirim nanti sore via email ke majalah.” Zahra yang masih belum ngerti cerpen dan email itu apa hanya ber-ooo... Akhirnya Maryam dan Zahra pun siap melangkah menuju balai desa. Sebelum berangkat tiba-tiba Maryam mengangkat kedua tangannya dan merapihkan jilbab Zahra. Ummi tersenyum melihat kedua malaikatnya itu.
Suasana di balai desa cukup ramai. Maklum selain ini hari minggu, seluruh warga Sekepicung tak mau kelewatan pengobatan yang dilakukan oleh salah satu badan amal di sebuah kampus kota Bandung ini, apalagi tentunya gratis.
“Maryam dan Zahra setelah ini,” seorang petugas berompi oranye memanggil Maryam dan Zahra. Maryam yang sedang melihat dan mendengar obrolan ibu-ibu di sekelilingnya langsung menyentuh pundak adiknya. Kakak beradik itu menuju meja pemeriksaan. Terlihat seorang perempuan berkacamata, berjilbab ungu, dan berusia 25-an sedang memeriksa gigi seorang ibu-ibu paruh baya. Sesekali ia bertanya kepada ibu itu.
“Ibu, coba liat yang bagian kirinya,” Perempuan meminta ibu itu membuka mulutnya.
“Waduh neng, maaf... ibu malu. Yang sebelah kiri lebih jelek dari yang kanan. Giginya udah rusak. Ibu juga kalo makan nggak pernah pake gigi yang sebelah kiri. Tapi sebenarnya ibu pengen berobat, tapi nggak punya uang.” Ibu itu menyentuh pipi kirinya dengan tangan kanannya.
“Nggap apa-apa kok Bu. Biar Vivi liat dulu ya...” Perempuan yang ternyata bernama Vivi mengajak kembali ibu itu untuk membuka mulutnya.
Akhirnya sang ibu dengan malu-malu membuka mulutnya. “Oh... iya. Gpp... ibu maaf memang gigi bagian kiri ibu sudah rusak... hmm... Memang lebih baik untuk dicabut seluruhnya dan kemudian dipasang gigi tiruan.” Vivi berusaha menyampaikan kondisi gigi sang ibu dengan hati-hati.
Dahi sang ibu terlipat, “Iya neng... inginnya ibu seperti itu. Ini salah ibu juga dari kecil nggak pernah diurus gigi ibu. Malah ibu baru gosok gigi saat SMA. Haduh gimana ya neng... katanya ganti gigi itu mahal sampai 4 juta. Ibu nggak punya uang, kepake buat anak-anak sekolah.”
“Oh...” Vivi hanya bisa memahami kondisi ibu. “Tapi coba aja di Rumah Sakit di tempat Vivi belajar bu, di sana lebih murah daripada di tempat lain. Apalagi kalau ibu mengganti gigi ibu seluruhnya bisa lebih murah lagi daripada mengganti satu persatu.”
“Iya neng, malu ini juga. Apalagi ibu teh suka ngisi pengajian. Jadi suka nggak pede... salah ibu ini.”
“Ya udah gpp bu. Ibu ambil hikmahnya saja. Kan ibu bisa ngasih tau ke putra-putri ibu untuk menjaga giginya sejak kecil,” Vivi mencoba menyemangati sang ibu.
Maryam yang sejak tadi menyimak obrolan itu mengangguk-angguk. Sesekali ia mengetuk-ngetuk giginya dengan jari telunjuknya. Harus dirawat nih gigi... katanya dalam hati, kalau enggak nanti rusak, dan kalau udah rusak harus dicabut semuanya, dan diganti yang baru...
Vivi kemudian meminta nomor HP sang ibu agar kemudian bisa dirujuk ke dokter yang bisa menanganinya. Ia tersenyum kepada sang ibu, dan mengambil air mineral di sampingnya. Kerongkongannya terasa dahaga setelah melayani 30 warga sejak jam 8 pagi. Ia mengambil nafas sejenak... pikirannya kemudian monolog: alhamdulillah bisa banyak belajar dari warga di sini dan bisa berbagi kepada orang-orang.
Tibalah giliran Maryam dan Zahra. Maryam membiarkan adiknya diperiksa duluan. Karena ia bisa melihat mimik wajah Zahra yang tampak bersemangat sekali. Berbeda dengan sang ibu yang malu-malu memperlihatkan giginya, Zahra tanpa diminta langsung nyengir menampakkan giginya kepada Vivi. Vivi tertawa melihatnya.
“Halo adik kecil, namanya siapa?” Dengan wajah tersenyum Vivi menyapa Zahra.
“Aku bukan anak kecil lagi. Aku udah besar. Bentar lagi sekolah. Namaku Zahra, dan ini kakakku, namanya Kak Maryam.” Kali ini Zahra menjawab agak berbeda dari kebiasaannya, karena ia tidak mau dibilang anak kecil.
Vivi masih tersenyum. Otot pipinya tertarik ke atas, sementara matanya yang dibalut lensa berbingkai menyipit. “Zahra... wah senang bisa ketemu Zahra dan Maryam. Nah, kakak namanya Vivi. Salam kenal...” Binar mata Vivi menatap kedua kakak beradik itu. “Zahra duluan ya...? Ya udah sekarang buka mulutnya lagi.” Vivi membuka mulutnya meniru apa yang dilakukan Zahra sebelumnya.
“Emangnya Zahra ada yang sakit ya giginya?” Tanya Vivi.
“Nggak Kak. Cuma mau diperiksa aja.” Balas Zahra.
“Oh gitu... gosok giginya teratur ya?”
“Iya. Ummi bilang Zahra dan Kak Maryam harus gosok gigi habis makan. Kalo nggak nanti banyak kumannya.”
Vivi mengambil alat periksa yang menyerupai cermin kecil bergagang. Sebelumnya alat tersebut dibersihkan terlebih dahulu dengan alkohol dan kapas. Ia memasukkan alat itu ke dalam mulut Zahra. Mengecek gigi sebelah kiri dan kanan, sebelah atas dan bawah.
“Hmm... bagus. Tinggal nanti sikat giginya sampai ujung ya supaya bersih,” Vivi menunjuk kedua pipinya dengan telunjuk tangan kanan dan kirinya. Zahra nyengir dan mengucapkan terima kasih kepada Vivi.
Sekarang giliran Maryam. Kakak Zahra itu cerita kalau ada satu giginya di sebelah kanan goyang mau tanggal. Tapi Maryam nggak berani mencabutnya. Ia juga belum bilang ke Ummi masalah giginya itu karena ia baru merasakan giginya goyang 3 hari yang lalu.
Setelah mendengar cerita Maryam, Vivi mengetuk-ngetuk gigi yang dimaksud dengan ujung gagang alat periksanya. “Iya betul, ini memang udah goyang dan memang harus dicabut. Soalnya nanti akan tumbuh gigi baru. Kalo nggak cepat-cepat dicabut, gigi barunya malah tumbuhnya ke samping.” Ujar Vivi.
“Kak Vivi bisa bantu nyabutnya?” Maryam menatap Kak Vivi.
“Nanti bisa dibantu sama kakak yang lain yang udah boleh nyabut gigi Maryam,” Vivi tersenyum ke arah Maryam.
“Um... ternyata bukan gigi yang rusak aja ya Kak yang harus dicabut. Giginya Maryam yang goyang ini juga harus dicabut.”
“Gigi yang rusak?” Vivi mengernyitkan dahi.
“Iya, tadi Maryam ngeliat dan ngedengerin Kak Vivi meriksa gigi ibu itu.” Maryam bersemangat.
“Oh iya. Gigi yang rusak harus dicabut dan dibuang, serta lebih baik diganti dengan gigi tiruan untuk kasus yang giginya sudah nggak bisa tumbuh dengan yang baru.” Vivi memberi edukasi kepada Maryam, “Makanya kita harus merawat dan memelihara gigi dengan gosok gigi dengan teratur dari kecil. Seperti yang Ummi kalian bilang...” Perempuan berilbab ungu itu menambahkan.
Tiba-tiba Maryam menyentuh bibirnya, “Kalo kata Ustad Zaki, bukan gigi yang rusak yang harus dibuang. Tapi sifat sifat dengki, kikir, dendam, pemarah, murung, dan malas yang harus dihilangkan. Soalnya itu sifat jelek manusia. Yang jelek harus diperbaiki, dan diganti ama yang bagus. Sifat yang bagus... kayak... hmm... Kak Zaki eh Ustad Zaki bilang kayak semangat, memberi dan menolong orang lain, dan rajin belajar...”
Jarum jam di tangan kiri Vivi menunjuk pukul 11.30. Terdengar gema bedug adzan duhur. Beberapa detik kemudian sayup-sayup takbir dan kalimat tauhid mengajak orang-orang untuk sesaat menghentikan aktivitasnya dan beralih ke wujud penyembahan yang wajib dilakukan setiap umat Islam. Awan mendung yang tadinya menyelimuti langit Sekepicung perlahan bergerak ke arah barat. Lalu berganti biru cerah... secerah hati para warga Sekepicung yang mulai bersiap untuk sholat duhur.
Vivi membuka kacamatanya, menyeka kedua matanya yang sedikit berdanau.
*****
Andai bisa ku mengulang waktu hilang dan terbuang. Andai bisa perbaiki sgala yang terjadi. Tapi waktu tak berhenti, tapi detik tak kembali. Harap ampunkan hamba-Mu ini... (Opick)
01-11, 2011
Duddy Fachrudin
Sunday, November 27, 2011
Jalanan: 25 November
Pulang pergi ke KPW Sosro di Soekarno Hatta. Naik Damri & Dago-Kelapa. Melihat anak-anak jalanan dan anak penjual coet yang terlihat jelas cucuran keringatnya. Bertemu pengamen dan peminta-minta. Dan tiba-tiba... tertulis jelas di sebuah headline: "PERNIKAHAN 40 MILLIAR" di sebuah surat kabar kota.
Entah pernikahan siapa. Karena saya jarang membaca berita. Namun saya dengar pernikahan anak-anak p...emerintah.
Saya pilu di dada. Pun begitu jika Amirul Mukminin Umar bin Khattab masih ada. Masih ingat kisahnya, di tengah malam ia meronda. Terdengar tangisan rakyatnya yang tak tahu harus makan apa. Karena yang ada hanya batu dan air yang dimasak seadanya. Umar langsung menuju gudang gandum dan membawanya, untuk sang warga. Ia mengangkatnya sendiri dengan tangannya, meski saat itu ada ajudannya.
"40 MILIAR" habis dalam beberapa saat saja. Namun tidak bagi mereka: anak-anak jalanan kota. Dengan rupiah-rupiah yang wah itu, pendidikan mereka terjaga. Kemiskinan pun mulai terkikis dari hidupnya.
Tapi anak-anak pemerintah lebih suka menghabiskannya dalam satu pesta.
Inilah realita. Wajah nusantara kita.
Dari Tugu Kujang Sampai Imogiri
Ku layangkan pandangku melalui kaca jendela
Dari tempatku bersandar seiring lantun kereta
Membawaku melintasi tempat-tempat yang indah
Membuat isi hidupku penuh riuh dan berwarna
(Perjalanan Ini, Padi)
Malam pekat aku duduk di jok belakang. Motor yang dikendarai temanku menderu di atas aspal sunyi tanpa lantang. Kanan-kiri kami sawah membentang. Dalam perjalanan kami ditemani cahaya bulan dan bintang. Motor terus berlari kencang. Angin malam menyapu rambutku yang usang. Imogiri... Imogiri... aku datang!
Tugu Kujang
Hari itu sabtu malam, tanggal 21 di bulan Mei, mengingatkanku pada sebuah perjalanan di mana aku terdampar di Tugu Kujang. Bogor, 28 April pukul 21.30 aku bersama seorang perempuan berusia 18-19 tahun yang akan melakukan wawancara kerja di depan simbol kota hujan. Dia kemudian bertanya suatu daerah di Bogor padaku yang pertama kali ke Bogor! Jadilah aku menemaninya sampai temannya menjemputnya. Padahal aku sendiri tak tahu harus bermalam di mana.
Dua kisah itu tentang perjalanan. Yang pertama: Jogjakarta. Kedua: Bogor. Lalu untuk apa aku ke sana?
Waktu dikalahkan Aokiji, aku pikir masih banyak orang yang lebih kuat daripada ia. Karena itu, aku juga harus lebih kuat demi melindungi teman-temanku... Bukan hanya menjadi lebih kuat... Tapi karena aku ingin selalu bersama teman-temanku. Karena itulah, aku harus lebih kuat daripada siapa pun. Kalau tidak, aku akan kehilangan mereka.
(Luffy saat bertarung melawan Blueno di Enies Lobby)
Kata-kata Luffy aku tulis ulang. Tepatnya di halaman 194 buku “10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Rahasia”. Oh ya sebelum dilanjutkan, sebenarnya buku ini tidak mau aku terbitkan karena memang isinya berisi pesan-pesan serta wasiat terlarang. Orang yang membacanya kemudian mempraktekkannya 100% akan mengalami ketidakwajaran dalam hidupnya. Aku ulangi: akan mengalami ketidakwajaran dalam hidupnya. Jadi JANGAN COBA-COBA MEMBELINYA, MEMBACANYA, apalagi MEMPRAKTEKKANNYA! Plis, aku sudah peringatkan dari sekarang. Tanggung sendiri resikonya ya...
Buku TERLARANG!
Kembali ke jalan yang benar.
Begini... kalau orang ingin maju, apa sih yang sebenarnya dibutuhkan? Kalau Luffy, untuk lebih kuat memang harus berlatih. Nah kita? Tentu saja belajar. Itulah kenapa aku melakukan dua perjalanan itu. Belajar Kawan, atau kata lain investasi leher ke atas dalam bentuk ilmu.
Di Bogor aku mengikuti pelatihan Hidup Berlimpah Hidup Berkah (HBHB) yang diadakan DinarCoach Internasional selama 3 hari 3 malam. Mulai pukul 7.30 dan selesai pukul 00.30. Itu 2 hari pertama. Di hari terakhir, training baru selesai pukul 03.00! Inilah pelatihan terlama yang pernah aku ikuti.
Bapak Hasan & Emak: sudah berjualan ketan bakar selama 40 tahun di Bogor...
Suatu malam di lain waktu, salah seorang sahabat bertanya, “Kang kenapa rela-relain ikut training sampai ke luar kota?”
“Hmm... kenapa ya? Aku kan trainer. Harus nyari ilmu. Udah hobi juga, hehe...”
Kebayang Kawan (eh kebayang itu yang suka dipanggil si Borokokok...), kalau ilmuku segitu-segitu aja maka training yang diadakan Alpha Habits Institute pun nggak berkembang. Kalau sudah begitu ya susah nolong orang. Padahal salah satu core values dari kami adalah Help People: Menolong Orang.
Oke kita lanjutkan.
Sementara di Jogja aku belajar pada para Master IACH dan para sekutunya (teman-temannya, red). Dua hari di sana benar-benar muantep. Ilmu hipnoterapi yang didapat dari dr. Gun, ditambah para Master Jogja yang khas RASA metafornya serta versi diriku sendiri kini menyatu dalam hati sanubari yang paling dalam (hualah opo iki...). Nah, enaknya saat di Jogja dibanding Bogor, aku sempat jalan-jalan. Ide pun bermunculan, salah satunya saat membeli sebuah souvenir yang bisa dijadikan alat pendukung ketika training.
Malioboro: ramenya kalau malam minggu...
Satu hal lagi yang didapat ketika kunjungan ke Jogja adalah saat bermalam di rumah seorang kawan di Imogiri yang sepi dan hampir nggak ada sinyal. Di daerah situ pun bisa dihitung dengan jari jumlah anak mudanya yang kuliah di kota. Apa yang didapat di rumah kawan yang baru aku temui dan berkenalan di Jogja itu? Di balik rumahnya yang sangat sederhana dan HP-nya yang jadul, BUKU-BUKUE AKEH PISAN, TELU LEMARI! (buku-bukunya banyak sekali, tiga lemari!). Weleh-weleh... aku jadi teringat teman-temanku yang bergaji 2 jutaan dari Ortunya. (Mereka) investasi buku (ilmu) aja susahnya minta ampun, dan ketika ditawari ikutan training minta gratis. Sementara HP ganti tiap bulan, nonton, DVD, dan urusan perut jadi nomor satu. Padahal ayat pertama yang turun adalah nyuruh manusia adalah iqra (baca atau cari ilmu) bukan nonton apalagi makan.
Baiklah. Sidang pembaca sekalian. Mari kita lanjutkan sedikit lagi.
Hari ini tanggal 1 Juni 2011, dalam satu tahun kami tak terasa sudah mengadakan training “The Journey of SUCCESS & HAPPINESS” (Hypnomotivation) selama 5 angkatan, “Basic Clinical Hypnotherapy” (BCH) 4 angkatan dan 1 kali privat, memberi terapi personal ke puluhan orang, terapi massal hampir ke seribu orang, serta membuat buku. Alhamdulillah... aku sendiri merasa sangat bersyukur dengan pencapaian ini. Aku bertemu banyak orang dan mendapatkan pembelajaran dan inspirasi dari mereka.
Namun aku tak ingin berhenti di sini, karena setelah ini kami akan mengadakan training “11 Steps to SUCCESS & HAPPINESS” dan “Miracle of SUCCESS & HAPPINESS” (lanjutan “The Journey of SUCCESS & HAPPINESS”) serta Advance Clinical Hypnotherapy. Oleh karena itu aku harus terus belajar dan tentu saja mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Aku jadi teringat salah satu hadis yang aku tulis di buku “10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Rahasia”:
“Barangsiapa menginginkan kebahagiaan di dunia, ia harus mencapainya dengan ilmu. Dan, barangsiapa menginginkan kebahagiaan akhirat, ia harus mencapainya dengan ilmu. Dan, barangsiapa menginginkan kedua-duanya, ia harus mencapainya dengan ilmu.” (HR. Thabarani)
Siap investasi ilmu?
—Hari pertama di bulan Juni 2011,
Ditemani “10 Pesan Tersembunyi & 1 Wasiat Rahasia”
Duddy Fachrudin
Tuesday, November 15, 2011
Kadang hidup itu menyakitkan. Kadang ia datang dengan membawa kesenangan. Itulah hidup. Kita hanya bisa meresponnya dengan sikap kita. Dan respon yang kita tunjukkanlah yang sesungguhnya membuat kita mati atau hidup. Maka jangan terlalu bersedih, jangan juga terlalu bergembira. Jalani saja dengan sederhana. Karena kita tidak tahu rahasia-rahasia-Nya. Kita tidak tahu ada apa dibalik ini semua. Tetap jalani dengan cinta. Insya Allah semua akan baik-baik saja... :)
Monday, November 14, 2011
Pilih Mana: Tukang Tempe atau Mahasiswa S-2
Kalau aku jadi orang tua Ana, Ketika ada 2 mahasiswa datang kepadaku. Yang satu sangat serius belajar, sementara yang satunya hanya sibuk membuat tempe dan bakso. Maaf Zam, aku akan memilih yang serius belajar. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Tapi aku ingin kamu lebih realistis. Cobalah kamu raba, apa kata Kairo tentang dirimu.
(Ustad Mujab kepada Azzam dalam KCB)
Jodoh lagi. Jodoh lagi.
Nggak bosen-bosen.
Oke deh. Gini Kawan, kalo elo-elo pade jadi orang tua dan harus milih antara Tukang Tempe atau Mahasiswa S-2 sebagai mantu untuk anak putri elo, mana yang dipilih? Hmm... pusing?
Kalo gitu, buat kamu kaum Hawa yang lagi nyiapin masa depan (nikah, red), pilih mana Tukang Tempe atau Mahasiswa S-2?
Dan buat kamu kaum Adam, pilih mana Tukang Nasi Uduk atau Asisten Dosen?
Terlepas dari milih-milih. Lebih baik mengeksplor siapa diri kita dulu, right?
Misalnya saya orang yang:
- Analitis
- Banyak mikir
- Detil
- Pokoknya otak kiri banget deh...
Nah sekarang bayangin kalo dapet orang yang sama kayak kamu yang otak kiri. Asik apa asik? Kalo aku nggak asik. Why? Nggak bakal bisa kaya, mau bisnis nggak jadi-jadi. Begitu juga kebalikannya, kalo kita punya karakter otak kanan sementara pasangan kita juga sama, wah bisa berabe, rumah dijamin berantakan, nggak ada yang bersih-bersih!
Lalu? Ya jelas, carilah yang berbeda agar SALING MELENGKAPI. Aku ulangi, carilah yang berbeda agar SALING MELENGKAPI.
- Orang spontan – analitis
- Orang holistik – detil
- Orang yang kurang sabar – sabar
- De-el-el, hehe... (silahkan cari sendiri)
Apa perbedaan itu malah nanti nggak bikin cekcok? Insya Allah nggak, asalkan...
Ini dia! Siapa diantara Anda yang mau tahu syaratnya supaya nggak cekcok?
Kalo tadi kita bicara diferensiasi agar saling melengkapi. Nah sekarang kita bicara samaisasi. Apa yang harus sama? Yang harus sama adalah HOBInya...
Maksudnya? Hobi maen bola harus cari cewek yang juga hobi itu juga?
Hush... bukan itu maksudnya.
Ini dia!
Hobi TAHAJUD, hobi SHALAT DHUHA, hobi SEDEKAH, hobi PUASA SENIN-KAMIS, hobi UMROH, hobi berkunjung ke ANAK YATIM. Nah asik kan kalo hobinya sama. Insya Allah kalo hobinya sama, maka dua-duanya masuk SURGA, hehe...
Daripada bingung milih Tukang Tempe atau Mahasiswa S-2, mending cari yang hobinya sama. REZEKI lebih banyak diraih, IMPIAN lebih mudah dicapai, right?
Suatu ketika seseorang berkata kepadaku, “Cari jodoh itu sama seperti cari daging di pasar. Harus cari yang segar.” Mari kita pikirkan masa depan, mulai terbuka dengan semua orang (wanita bagi Anda yang laki-laki, dan laki-laki bagi Anda yang perempuan). Karena masa depan (baca: nikah), bukan hanya sebatas afeksi dan cinta. Namun juga REZEKI dan SURGA, hehe... ini lebih penting!
Hmm... pasti mulai pada mikir nih. Oh iya ya... cari yang hobinya sama, ups.
19 April 2011
Iseng-iseng setelah nunggu berjam-jam buat perpanjang SIM.
Duddy Fachrudin
Tiba-tiba di otak ada yang nyeletuk: Gimana kalo aku udah punya pasangan tapi hobinya nggak sama? Dan otakku keingetan Hukum Newton I: Suatu benda tidak akan berubah sampai benda lain memaksanya berubah. Tapi kan seseorang bisa berubah kalo dia sendiri mau berubah? Iya betul, aku percaya itu. Aku juga percaya Hukum Newton I. Gimana kalo nggak berubah juga? Ya udah tinggalin aja, ribet amat, hehe.